Nikah siri itu hanya sekedar menghindari dosa

    " Jika kalian tidak puas dengan satu istri, maka ambillah dua, tiga atau empat istri" "yang penting engkau harus bisa adil......." " Namun jika engkau kawatir tidak bisa adil, maka cukup 1 istri saja....." " Dan sudah menjadi ketetapan bahwa manusia tidak ada yang bisa bersikap adil (dalam hal ini"...........Dari potongan potongan ini, sudah bisa disimpulkan  bahwa istri itu sebaiknya satu orang saja.
     Rasulullah memang beristri lebih dari satu, bahkan banyak. Tapi ingat, bahwa istri rasulullah itu adalah wanita yang bermasalah, janda yang ditinggal mati syahid suaminya, dsb. Jadi pernikahan rasulullah itu untuk menolong dan mengangkat kehidupan wanita janda, wanita yang bbermasalah dsb, bukan untuk mengumbar nafsunya.
      Pernikahan itu sesuatu yang sakral mestinya, sebagai pintu gerbang untuk membentuk satu keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, untuk memberi ketenangan hati, melanjutkan generasi/ menghasilkan keturunan dsb, dlam satu ikatan pernikahan yang diridhoi oleh Allah. Mestinya ya lewat pernikahan yang resmi, dfisaksikan banyak orang pada walimatul ursy.
     Lha kalau nikah siri itu gimana? Ya itu hanya sah menurut hukum agama, tapi tidah sah menurut hukum negara. Nikah siri itu n ikah yang diam diam, mestinya karena sesuatu hal. Rata rata nikah siri itu dilakukan untuk perkawinan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Dengan siapa? Apa dengan janda yang beranak lima, tidak bekerja dan tidak bisa menafkahi anaknya? Ternyata tidak. Rata rata nikah siri itu ya dengan yang masih gadis, atau janda yang masih kinyis kinyis. Penyanyi ndangdut, dsb. Jadi ya nawaitunya psti tidak untuk membentuk keluarga, tapi sekedar melampiaskan nafsu. Tapi agar tidak dianggap zina, maka dinikahkan secara siri. Lalu, dikontrakkan rumah atau lelaki yang kaya dibuatkan rumah dengan segala perabotnya, jadilah istri simpanan.
     Ada juga nikah siri yang karena sebab lain. Seorang janda PNS atau angkatan, agar tidak kehilangan hak pensiunnya, maka pernikahan berikutnya ya dengan nikah siri itu. Jadi dapet suami baru, tapi uang pensiun dari almarhum suaminya masih bisa diterima.
     Inilah tantangan bagi kita bagi kita semua para lelaki. Kalau mau nikah lagi, tengok lagi sebenarnya niatnya untuk apa? Kalau memang untuk menolong janda yang banyak tanggungan anak dan tidak punya penghasilan, maka teruskanlah niat itu. Mudah2an merupakan amal baik. Tapi siapa yang mau menikahi orang yang hanya akan menjadi beban? Lha kalau yang akan dinikahi itu gadis yang masih kinyis kinyis, percayalah, itu hanya nafsu yang sebaiknya ditahan aja...........

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pesan Moral : Puisi Yang Ke Tujuh Belas

Segala PerintahKu hendahlah engkau Junjung
Segala laranganKu hendaklah engkau buang
Maka engkau akan hidup abadi panjang
 Akulah Dzat Hidup Yang Tak Pernah Berujung
(jika Aku berfirman "jadilah", maka segala sesuatu akan terjadi)

Jika omonganmu indah sedang perbuatanmu jijik
Engkau benar benar dedengkot munafik
Jika lahirmu indah sedang bathinmu hina
Maka benar benar engkau orang yang celaka

Engkau menipu Allah, padahal Allah lah yang menipumu
Tiada mereka menipu kecuali kepada dirinya sendirilah mereka menipu
Takkan engkau masuk sorga, kecuali dengan hati merendah
Dan mengisi hari harimu dengan ibadah

Menahan hawa nafsu demi perintahKu
Aku memberi tempat berteduh bagi kaum musafir
Aku memberi rasa aman bagi kaum fakir
 Anak anak yatim berada dalam samtunanKu
Aku bagaikan bapak bagi mereka
Aku bagaikan suami bagi para janda

Barang siapa berkepribadian seperti ini
Jika memohon kepadaKu pasti kululuskan
Jika meminta sesuatu kebutuhan
Segala yang dia minta pasti kuberi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kuliner super pedas...hanya untuk menutupi rasa?

     Saat ini banyak sekali rumah makan yang mengiklankan masakannya dengan masakan yang pedasnya nendang banget. Sebut saja "sambal geledek", "oseng oseng mercon" Rica rica setan" dan seabreg sebutan masakan lainnya, yang intinya adalah hidangan masakan yang pedasnya audzubillah. Kuliner seperti ini banyak diburu oleh para penggemar masakan pedas.
     Ya, makannya sambil ber has husss, berkeringat sebiji jagung, keluar air mata karena kepedasan, dan tidak jarang esok harinya akan mejadi langganan ke WC lantaran sakit perut. Namun penggemar kuliner juga gak kapok kapok mencobai masakan super pedas, ini bahkan cenderungingin mencobai rumah makan rumah makan yang mempunyai kekhasan hidangan super pedas ini.
     Namun jika anda betul betul seorang penikmat kuliner sejati, pasti bisa membedakan antara masakan yang lezat namun pedas, dengan masakan yang pedas bahkan super pedas yang hanya untuk menutupi rasa. Ya, banyak sekali rumah makan yang menghidangkan masakan super pedas itu, yang sebenarnya tidak enak, namun ditutupi dengan bumbu yang sangat sangat pedas.

Bumbu itu ya harus seimbang
     Masakan Indonesia apapun, hampir pasti tidak jauh jauh amat dengan bumbu bumbu seperti bawang merah, bawang putih, lada, ketumbar, lombok, tomat dsb. Antara bawang merah, bawang putih, lombok dsb sudah ada kombinasi dan jumlah yang ideal, sehingga menghasilkan cita rasa yang tinggi. Lha kalau jumlah bumbu itu dikurangi, lalu diperbanyak lomboknya, cabenya, lalu ditutupi dengan rasa asin dan rasa gurih dari MSG, maka yang terasa yang itu tadi....... mercon, geledek, setan dan seabreg sebutan untuk hidangan super pedas.

Bahan dasar masakan, pembawa rasa enak
    Bahan apapun untuk masaakan, kalau oseng oseng mercon ya kangkung misalnya, rica rica ayam (daging ayam), rica rica sapi(daging sapi), mangut lele(ikan lele) dsb, maka bahan dasar itu sebenarnya yang akan menjadi pembawa rasa enak. Kalau bumbunya hanya lombok/ cabe, maka yang ada hanya rasa pedas yang nendang, namun gak ada ras enak bahan dasarnya.

Jadi, mari kita sedikit cerdas dalam berburu kuliner, jangan sampai tertipu oleh sebutan macem macem yang intinya hidangan yang super pedas, namun sebenarnya itu hanya sekedar menutupi rasa. Rasa yang terasa dilidah kita hanya pedas melulu, tampa rasa lainnya........

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kantong plastik.....apa daya, sudah menjadi budaya!!!......

Sekarang ini banyak gerakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, tas kresek dan bungkus plastik lainnya. Kesadaran akan pencemaran lingkungan dan bahaya sampah plastik rupanya telah meningkat. Namun bisakah kita menyatakan talak tiga kepada produk plastik?. Apa daya, plastik telah terlanjur terlalu dalam masuk dalam keghidupan kita.........

       Suatu saat saya berbelanja untuk kebutuhan pertemuan RT dirumah. Saya membeli aneka snack. Tempe goreng 10 biji, tahu goreng 10 biji, kue pukis 10 biji, kue lapis 10 biji dsb dsb. Masing masing jenis kue ternyata dibungkus dalam kantong plastik per satu macam kue. Lalu saya belanja aneka kebutuhan lainnya. Al hasil pulang dari pasar saya membawa 2 tas kresek besar dan belasan kantong plastik. Sampai dirumah anerka kue tsb dipindahkan kedalam piring dan nampan dan bungkusnya dibuang. Dua tas kresek besar dan puluhan kantong plastik langsung masuk tempat sampah. Sekali berarti sesudah itu mati.
     Istri saya agak tertib lagi. Kalau ada tas krsek bekas, kantong plastik bekas, dikumpulkan dalam satu wadah, lalu sesudah banyak, diberikan kepada mbok bakul sayur kelilingan untk bungkus dagangannya. Apa jawab si mbok bakul? Ternyata si mbok bakul merasa sungkan/ pekwwuh kalau membungkus dagangan melayani dengan menggunakan plastik bekas. Melayani pelanggan harus pakai tas kresek dan kantong plastik yang baru dong! Apa daya, bungkus plastik sudah menjadi budaya.
     Lain waktu saya lagi lagi pergi kepasar. Sengaja saya membawa wadah sendiri, tas besar untuk wadah belanjaan. Ini sebagai upaya untuk mengurang penggunaan tas kresek dan kantong plastik. Beli sayur, langsung saya masukkan kedalam tas, lalu beli bumbu, bungkus kertas bekas dan dimasukkan kedalam tas, dsb. Namun banyak juga bakul pasar yang tidak mau langsung memasukkan kedalam tas saya, harus dibungkus plastik dan tas kresek dulu, baru dimasukkan kedalam tas saya..."Wah, ya tidak sopan pak, kalau langsung masuk kedalam tas, dibungkus dulu dong.." Sekali lagi, palstik sudah menjadi budaya dan tolok ukur kesopanan masyarakat kita.
     Dari contoh saya diatas, nampaknya gerakan untuk mengurangi penggunaan tas kresek, penggunaan kantong plastik, masih banyak sekali tantangannya. Plastik benar benar telah masuk kedalam seluruh sendi sendi kehidupan kita. Tidak ada kegiatan yang tidak melibatkan plastik. Plastik telah menjadi tolok ukur kesopanan. Pedagang merasa tidak sopan kalau dagangannya tidak dibungkus plastik dulu.
     Penyadaran kepada masyarakat akan bahaya sampah plastik rupanya juga belum bisa diterima masyarakat. Produksi plastik yang membutuhkan sekian barel minyak, mengurangi cadangan sumber daya alam, kemudian sampah plastik yang tidak terurai selama sekian ratus tahun, rupanya tidak masuk kedalam alam pikiran masyarakat kita yang mmang bodoh bodoh atau tidak pedulian.
     Menjadi tugas berat kita dan para pendekar lingkungan untuk terus berjuang menyelamatkan lingkungan, menyelamatkan bumi tempat kita berpijak. Mari kita kurangi penggunaan produk plastik demi lingkungan hidup kita dimasa yang akan datang........... 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karakter orang Indonesia??...Gak ada teorinya!

     Ya, teori apapun yang diterapkan di Indonesia buat memotret karakter orang Indonesia, rasanya meleset semua. Abraham Maslow yang terkenal dengan teori "piramida kebutuhan maslow", gak pas pas amat buat orang Indonesia. Tingkat kebutuhan, tingkat kepuasan yang dimulai dari piramida terbawah, kebutuhan fisiologis seperti sandang papan pangan, lalu naik lagi kepada kebutuhan rasa aman, lalu naik lagi kebutuhan kasih sayang, lalu percaya diri dan teratas adalah aktualisasi diri. Walaah, pada kenyataannya ada orang dari tingkat terbawah meloncat naik ke tingkat teratas. Apa ini yang dikatakan orang miskin yang sombong itu ya?
     Orang yang untuk memenuhi kebutuhan dasar aja masih syusah, tapi sudah sibuk memikirkan kehormatan diri di masyrakat. Atau orang yang kaya raya, tapi masih rakus soal rebutan rejeki dengan kaum papa untuk urusan perut. Wah, pokoknya teori maslow itu gak cocok cocok amat untuk orang Indonesia.
     Lebih lebih kalau membaca teori tentang tingkat kepuasan diri itu! Ada orang dengan tipe politik, maka tingkat kepuasannya kalau politiknya diterima. Ada orang dengan tipe agamawan, maka tingkat kepuasan dirinya ya kalau bisa melaksanakan ajaran agamanya dengan tekun, dsb......wah nampaknya teori ini kalau diterapkan di Indonesia juga akan meleset. Seperti apa melesetnya?

Ekonom
     Seorang ekonom, sudah barang tentu sangat paham akan teori ekonomi. Mereka ingin menerapkan teori ekonomi yang diyakininya pada kehidupan di masyarakat dan di negara. Tingkat kepuasannya ya kalau teori ekonominya dapat berhasil untuk memajukan perekonomian negara dan masyarakat.
     Seorang pelaku ekonomi, seorang kapitalis, kita sudah hapal semboyannya....dengan pengorbanan sekecil kecilnya, mendapat hasil sebesar besarnya. Orang semacam ini memang tingkat kepuasannya kalau bisa mendapat untung yang besar dalam kegiatannya. Makanya jangan iri kalau orang tipe ekonomi ini bisa kaya.

Politikus
     Seorang politikus juga demikian. Kepuasan batinnya, tingkat kepuasannya adalah kalau aspirasi politiknya, toeri politiknya bisa diterima masyarakat, dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Politikus sejati akan menggunakan segala daya dan upaya, kalau perlu memakai dananya sendiri, kekayaannya sendiri, untuk berjuang agar aspirasi politiknya diterima.
     Kenyataan di Indonesia? Adakah orang politik yang mau membiayai perjuangan politiknya dengan memakai uangnya sendiri? Adakah mereka berjuang agar aspirasi politiknya diterima masyarakat dan untuk memperbaiki kondisi negara? Lha kalau mereka berpolitik ternyata hanya untuk mata pencaharian, berpolitik hanya ingin kaya, menumpuk kekayaan, menggerogoti kekayaan negara, maka pada dasarnya mereka itu buka politikus, namun seorang pengusaha. Pengusaha apa?. Pengusaha dibidang politik, gitu!!
     Politikus itu bukan orang yang memperjuangkan aspirasi politiknya untuk kemajuan bangsa, negara dan masyrakat, tapi nyari duit lewat politik, dengan segala cara, haram halal...ujung ujungnya ya mereka ingin kaya.

Birokrat
     Seorang birokrat, seorang punggawa negara, seorang PNS, seorang pamong praja, jelas tugasnya adalah menjalankan roda pemerintahan sesuai bidang tugasnya, menjalankan roda pembangunan dipusat dan daerah dan melayani masyarakat. Tingkat kepuasan batinnya ya kalau bisa menjalankan semua tugasnya, dan pada akhirnya mendapat nama dan kehormatan dimata masyarakat. Jadi selain melayani, nantinya juga akan dilayani. Timbal baliklah, tapi mestinya melayani duluan, dan hasilnya mendapat kehormatan dan dilayani. Uang, gaji, gak penting penting amat bagi seorang birokrat sejati. Kehormatan dan harga diri lebih diatas.
     Namun yang terjjadi saat ini, seorang birokrat itu ya pengin dilayani, dan mendapat kenikmatan, fasilitas negara, gaji yang tinggi dan kalau perlu korupsi karena kepuasannya gak abis abis. Akhirnya ujung ujungnya birokratpun sebenarnya ingin kaya.

Tehnokrat
     Seorang tehnokrat akan merasa sangat puas kalau bisa mengembangkan ilmu dan tehnologi yang bermanfaat dan bisa diterapkan dimasyarakat dan membawa kemajuan bagi negaranya. Seorang peneliti akan merasa sangat puas bila dapat menemukan penemuan baru...to find a new finding..... Inilah tingkat kepuasan seorang tehnokrat, seorang ilmuwan dan seorang peneliti.
      Tehnokrat ini bisa dikatakan masih memegang idealisme. Mereka tidak memikirkan gaji yang besar, asalkan penelitiannya, kegiatannya dibiayai, mereka sudah puas. Tapi lama lama, lha kalau melihat kiri kanannya, seorang lulusan SLTA persamaan, atau seorang sarjana abal abal, tapi duduk di dewan yang terhormat, kok gajinya sekian kali lipat; atau seorang pengajar tingkat dasar gajinya sama dengan seorang peneliti senior, lama lama sebel juga. Maka tatkala ada tawaran dari negeri seberang untuk bekerja disana dengan gaji yang lumayan, banyaklah ilmuwan, tehnokrat kita yang hengkang keluar negri.....
 
Agamawan 
     Orang yang mengamalkan ajaran agamanya, ya tin gkat kepuasannya kalau bisa beribadah dengan khusyuk, melaksanakan semua syariat agamanya dengan baik, amal ibadah dan mendapat kebahagiaan didunia dan mempunyai keyakinan akan bahagia juga diakherat nanti. Kaum agama tentunya tidak akan melanggar kaidah kaidah agamanya, nyari rejeki yang halal, tidak korupsi, mencuri, berzina dsb.
     Namun, ternyata agama hanyalah terbatas pada ibadah ritual dan tidak membekas dihati. Maka jangan heran kalau ada seorang agamawan yang ternyata juga mau melakukan hal yang dilarang, nyari rejeki dengan menabrak aturan agamanya. Bahkan agama dijadikan kedok untuk meraup keuntungan. Mungkin penyelenggara haji, mungkin penyelenggara pondok, mungkin penyelenggara institusi agama, ujung ujungnya ya masalah duit lagi. Ini lalu merembet ke moral. Maka jangan heran karena duit banyak, selingkuh, kawin lagi dan pelanggaran moral lainnya banyak dikalangan kaum agama.

So....lantas bagaimana??, ternyata semua itu tingkat kepuasannya kalau bisa mendapat kekayaan dunia sebanyak banyaknya. Tidak peduli itu kaum kapitalis, birokrat, tehnokrat, politikus dan agamawan sekalipun, muaranya kekayaan duniawi.........
    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS