Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Wisata Magelang....ayo mengarang cerita!!!!

      Pemerintah Kota Magelang telah mencanangkan Ayo Ke Magelang 2015. Apa ada yang tertarik untuk ke Magelang. Kalau Sudah kesini, lantas mau ngapain? Apa hanya mengandalkan penataan kotanya aja?, atau event event budaya, yang kadang cenderung diada adakan. Ayo ke Magelang mestinya dijadikan moment dan first step untuk menjadikan kota Magelang sebagai destinasi wisata untuk seterusnya, buka hanya sesaat, bukan hanya sebagai visinya pak Wali saat ini. Ini mungkin nyleneh, tapi salah satu persiapannya adalah mengarang cerita. Lho!!

Wisata itu mengarang cerita
      Syahdan di salah satu negara eropa sana, ada satu bangunan, kastil tua, yang sebenarnya hanyalah kastil tua biasa. Namun kemudian ada cerita, bahwa kastil tua ini adalah tempat tinggal pangeran Dracula. Ini rumahnya si Dracula yang melegenda itu. Lalu dikaranglah cerita tentang Dracula, riwayat hidupnya, hubungannya dengan kastil tua ini, lalu ada kesaksian penampakan, bla bla .......dan hasilnya, kastil tua ini menjadi obyek wisata yang dikunjungi wisatawan jutaan orang setiap tahunnya.
      Di negara timur tengah, hampir semua negara punya obyek wisata gua, yang diklaim sebagai gua asbaban kahfi dalam Al Qur'an. Entah mana yang yang betul, tapi semua obyek wisata gua asbabun kahfi itu dikaranglah cerita tentang kebenaran gua asbabun kahfi. Al hasil, jadilah gua itu sebagai obyek wisata andalan.
      Bahkan, ada sebuah gua yang dindingnya batua karang yang berwarna kuning keemasan. Salah satu karang didinding gua itu membentuk gambaran sebagai anak sapi. Maka dikaranglah cerita bahwa inilah anak sapi emas yang dibuat oleh Samiri lalu disembah sembah  oleh umat Musa dahulu. Dengan pencahayaan kuning yang lebih mengesankan bahwa inilah anak sapi emas jaman Samiri, maka jadilah gua itu sebagai obyek wisata unggulan yang dikunjungi jutaan orang. Padahal smua juga tahu bahwa itu bohong belaka.
      Di Thailand, ada obyek wisata yang sangat terkenal, yakni The Bridge Over The River  Kwai. Bentuknya kayak apa?. Cuma sebuah jembatan kereta api diatas sungai Kwai yang sudah tidak terpakai, namun ada cerita yang bomabstis tentang jembatan ini. Maka jadilah birdge over the river kwai sebagai obyek wisata andalahnya negeri gajah putih.

Lalu, cerita apa yang dikarang untuk wisata Magelang?
      Lha, ini, marilah sharing untuk mengarang cerita untuk mendukung Magelang sebagai destnasi wisata.
  • Gunung Tidar, pakunya tanah Jawa
  • Legenda Syekh Subakir
  • Tempat ditangkapnya Pangeran Diponegoro
  • Tempat Para Jendral digembleng
  • Tempat peristirahatan Belanda
  • dan masih banyak lagi
Nah, para pecinta kota Magelang, bayak cerita yang dapet kita kembangkan untuk mendukung Magelang sebagai destinasi wisata. Mungkin kita bisa meniru keberhasilan Banyuwangi, yang sekarang maju pesat dalam pariwisata, karena gencarnya cerita tentang banyuwangi, event budayanya, alamnya and so on and so on. Mari Mengarang Cerita......

      Syahdan, dulu pulau Jawa itu terombang ambing ditengah lautan. NJika ada angin ke barat, akan terombangambing ke barat, jika ada angin ketimur, akan ketimur. Maka penduduk pulau Jawa selalu dalam ketakutan dan gonjang ganjing melulu. Lalu datanglah seorang sekti mondrogrono yang menancapkan tongkatnya ditanah. Lalu tongkat itu lama lama membesar dan mejadi sebuah bukit kecil. Semenjak saat itu pulau Jawa menjadi tenang karena telah dipaku oleh orang sakti itu. Bukit kecil yang menjadi paku tanah Jawa yang berasal dari tongkatnya siembah sekti itulah yang sekarang dikenal sebagai Gunung Tidar.
      Wisata ziarah di kota Magelang ternyata berkembang pesat. Antara lain menziarahi sebuah makam di gunung Tidar, yakni makam Syeh Subakir. Ada yang mengatakan bahwa orang sekti yang menancapkan tongkatnya itu ya Syeh Subakir itu......Namun ada yang mengatakan bahwa Syeh Subakir adalah salah satu penyebar agama Islam. Terlepas dari siapa Syeh Subakir, yang jelas makamnya banyak diziarahi orang. Ini menjadi potensi kota Magelang dalam menggaet wistawan. Tinggal bagai mana menata kawasan makam syeh Subakir di gunung Tidar dan mengarang cerita yang indah untuk Syeh Subakir.
       Bahkan dalam buku Naga Sasra dan Sabuk Inten yang melegenda itu, gunung Tidar itu menjadi markas Simo Lodra si tokoh sekti. Kenapa itu tidak dikarang cerita aja bahwa disini lho tempatnya Simo Lodra, ada gua di gunung Tidar  yang tembus ke alas Mentaok dsb dsb, sekalipun itu bohong, tapi inilah cerita ngaya wara yang kadang dipercaya dan bisa meningkatkan kunjungan.....hehehehe........

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ritual / event budaya, banyak yang diada adakan....

Dengan dalih pengembangan pariwisata, atau melestarikan budaya leluhur, ngemi emi peninggalan  leluhur, banyak daerah atau desa desa yang membuat event budaya yang tak jarang sesungguhnya hanya diada adakan. Demi gengsi dan tak mau kalah dengan daerah lain, lalu event event itu didaftarkan untuk dijadikan agenda wisata, baik tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi bahkan kalau perlu tingkat dunia...........

     Didaerah tempat asalku sana, mempunyai tetangga desa yang agak jauh, katakanlah namanya desa  "Tugu". Seingatku, desa Tugu ini adalah desa yang sepi, tradisional dan tidak ada sesuatu yang menonjol. Namun mendadak sekarang desa ini menjadi desa yang terkenal, setiap tahun dibulan Suro/ Muharam adalah peristiwa budaya disana, yakni mengarak dan menjamas pusaka desa yang bernama keris Kyai Kangkam dan bende Kyai Seguntang. Konon katanya keris dan bende ini adalah peninggalan sesepuh/ pendiri desa Tugu yang bernama Mbah Imam Paseh. Ini cerita siapa yang membuat, keris dan bende ini kapan dan dimana disimpan dulunya, tapi yang jelas desa Tugu ini menjadi terkenal dan ramai setiap tahun gara gara mengarak dan menjamas kedua pusaka tersebut.
     Lain cerita, desa di kabupaten lain, juga mempunyai event budaya yang tak kalah seru. Sebuah kentongan besar, yang katanya peninggalan Eyang Demang, seorang kepala desa pada awal abad lalu, setiap tahun juga dijamas, lalu dipukul dengan irama doro muluk. Tidak kurang pak bupati, ketua DPR, muspida, tokoh masyarakat semua diundang untuk menjamas kentongan leluhur ini. Pada saat yang sama, semua warga desa yang mempunyai kentongan juga diwajibkan untuk ikut menjamas kentongannya. Lalu pada saat kentongan leluhur dipukul, semua warga desa juga harus mengiringinya dengan memukul kentongan masing masing.
      Pokoknya semua kepala daerah, kepala wilayah, kepala desa desa harus punya ide, inisiatif untuk mengarang cerita, lalu dijadikan suatu event budaya, ritual budaya, yang pada intinya untuk mendukung pariwisata daerah..........ya, harus dimaklumi bahwa event budaya itu sebenarnya hanyalah menjual suatu cerita.

Banyak yang mengarah ke Syirik
     Bagi umat Islam, event event budaya seperti ini boleh boleh saja, asal niatnya untuk memasjukan daerah, memberi kebanggaan kepada warga desa agar mempunyai rasa rumongso handarbeni, lalu lebih giat lagi bekerja memajukan desanya.
     Namun kalau kemudian melanggar akidah, mengarah ke syirik, mestinya Pemerintah daerah ikut mengarahkannya dan meluruskannya. Apa ada yang seperti itu?...o, sesungguhnya banyak sekali. Event budaya disuatu desa, yang diada adakan dan ternyata malah melanggar akidah. Silahkan cari contoh sendiri lah....

Banyak yang bersifat mubadzir
      Ada suatu daerah yang membuat event budaya, misalnya dengan perang ketupat. Masing masing keluarga membuat ketupat, lalu dibuatlah perang ketupat. Ketupat tidak untuk dimakan, namun untuk perang, lempat lemparan dengan ketupat. Ada juga yang perang nasi, perang tomat dsb
     Wah, disaat banyak saudara kita yang kurang makan, kok malah bahan pangan seperti itu dipakai buat perang, buat lempar lemparan. Apa tidak mubadzir?

Banyak yang latah
     Banyak pula event budaya yang latah, hanya meniru keberhasilan daerah tetangga, keberhasilan desa tetangga. Sekarang berapa banyak darah yang menggelar art carnival? Ada batik carnival, Semarang batik carnival, Jogja carnival, magelang night carnival, pokoknya semua daerah pada berlomba lomba menggelar event seperti ini, dengan berbagai variasi, kekhasan, saling jor joran dan tidak mau kalah dengan daerah lain.

Namun bagaimanapun juga, wisatawan sudah cerdas. Bisa memilih dan memilah mana yang asli suatu budaya suatu daerah, mana yang diada adakan, mana yang artifisial, mana yang ikut ikutan, dan mereka akan datang mengunjungi suatu event budaya yang memang sejak jaman leluhur ada. Yang hanya ikut ikutan, percayalah, akan terjadi seleksi alam, lama lama akan pudar dengan sendirinya. Dan yang memang merupakan tradisi sejak lama, akan tetap bertahan dan merupakan peristiwa budaya yang patut ditonton. Selamat berwisata budaya........

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TAWANGMANGU, riwayatmu kini....

   
Obyek wisata di tanah air itu ternyata patah tumbuh hilang berganti. Ada obyek wisata baru, yang lain akan turun pamor, atau bahkan tutup. Obyek wisata yang tidak bisa membuat inovasi baru, tunggu saja sebentar lagi bakal susut, ditinggalkan pengunjung dan akhirnya tutup.
     Sebut saja di Jawa Timur didaerah Malang sekitarnya, dulu ada obyek wisata yang sangat terkenal, yakni Taman Selecta dan Taman Sengkaling. Kini keduanya walaupun masih buka, namun jelas kalah pamor dibanding Batu Night Spectaculair/BNS atau Jatim Park. Taman Selecta dan Taman Sengkaling kini mungkin hanya dikunjungi  wisatawan lokal Malang, keluarga dan manula.
     Di Jawa Barat juga demikian. Taman Selabintana, taman Lido, kini hanya menjadi taman lokal yang tidak lagi menarik wisatawan antar daerah. Tapi disaat yang sama, Taman Safari, Trans dsb lebih diminati wisatawan.
     Hanya sedikit obyek wisata yang berumur tua yang masih dapat mempertahankan pamornya sebagai tujuan wisata andalan. Bagaimana dengan obyek wisata di Jawa Tengah?. Khususnya Tawang Mangu yang pernah demikian kesohor? Ya, ternyata nasibnya sama saja. Kalah pamor dibanding obyek wisata baru.
Hanya tinggal GROJOGAN SEWU
     Ya, dulu Tawang Mangu menjadi tempat tujuan wisata andalan di Jateng. Aneka Obyek wisata dapat kita jumpai disini. Grojogan Sewu sebagai obyek andalan, masih ada juga taman Bale Kambang, lalu ada obyek wisata camping Tawang Mangu baru, dsb. Namun kini ternyata taman Bale Kambang sudah sepi, walau masih ada loket karcis, namun nampaknya sudah tidak ada lagi yang mau masuk kesana. Camping Tawang Mangu Baru sudah tidak ada beritanya.
     Satu satunya andalan ya tinggal Grojogan sewu itu. Grojogan sewu dan arealnya, merupakan milik kehutanan. Jadi untung masih bisa dijaga kelestariannya. Hutan pinus, jalan terasah, monyet, pedagang sate kelinci, hamparan rumput dibawah pinus dengan persewaan tikar, masih menjadi daya tarik utama taman hutan Grojogan sewu.
     Persewaan kuda juga masih ada dan mungkin tinggal ini daya tariknya. Naik kuda keliling Tawang Mangu, dari grojogan sewu ke Taman Bale Kambang. Oitt...tapi di Taman Bale Kambang mau lihat apa?
     Taman Bale Kambang yang dulu sangat terkenal, kini mulai surut. Ditinggalkan oleh pengunjung. Camping Tawang Mangu Baru, saya nggak tahu gimana kabarnya sekarang. Atau mungkin malah sudah berubah fungsi.

Obyek wisata baru
     Mungkin pula penyebab susutnya pamor Tawang Mangu ini karena adanya obyek wisata baru di Karanganyar. Agak keutara dari Tawang Mangu, ada air terjun Jumog, yang labih baik daripada Grojogan sewu. Lalu Candi Sukuh, Candi cetho, sekarang sudah dipugar sekelilingnya dan menjadi obyek wisata baru.
     Di kabupaten lain juga berlomba lomba untuk menyajikan obyek wisata baru guna menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Harus ada inovasi baru
     Surutnya pamor Tawang Mangu sebagai obyek wisata andalan di Kab. Karanganyar khususnya dan Jateng umumnya, harus disikapi dengan serius dan seger adicarikan jalan keluarnya agar tidak malah ditutup nantinya.
     Inovasi baru, menampilkan obyek wisata atau permainan baru, mungkin bisa dipikirkan oleh pengelola. Jawa Timur mungkin selangkah lebih maju dalam inovasi dengan menciptakan obyek obyek wisata baru, seperti Batu Night Spectaculair atau Jatim Park, yang kini menjadi tujuan wisatawan lokal dan menyedot banyak pengunjung.
     Sebenarnya Tawang Mangu masih ada daya tariknya, yakni sering banget dipakai rapat, pertemuan, meeting, short course dsb. Juga out bond dan berbagai pelatihan, masih banyak yang melirik Tawang Mangu sebagai lokasi terpilih. Nah, berangkat dari sini saja, mungkin Tawang Mangu bisa dikembangkan sebagai lokasi out bond yang menarik, tempat rapat rapat dan pertemuan lainnya dan tempat pelatihan bertbagai organisasi. Hawa yang sejuk, tempat yang sunyi, indah, inilah yang mestinya bisa dikembangkan.
     Lha sekarang untuk angkutan umum saja sama sekali tidak mendukung. Kendaraan umum menuju Tawang Mangu ya hanya bis umum yang kondisinya sangat memprihatinkan.. Naik bis ini hanya karena terpaksa, tidak ada angkutan lainnya. Jam 4 sore sudah tidak ada bis lagi. Bis laste dari Tawang Mangu ke Solo adalah jam 4 sore. Jadi kalau ingin santai santai, tahu tahu sudah jam 4 sore, ya siap siap saja menginap di Tawang mangu.
   
Sebagai wong Karanganyar, saya sebenarnya pengin sekali melihat Tawang Mangu maju, tidak kalah dengan obyek obyek wisata di propinsi lain. Jangan malah surut pamornya, tergilas oleh obyek obyek wisata baru. Jangan sampai bernasib sama dengan Selecta, Sengkaling, Lido dan Selabintana.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Timetravel.....wisata macam apa pula ini

     Eh, bahas inggrisnya bener gak ini? Istilah ini tepat gak ya?. Timetravel. Mangsudnya itu wisata menembus lorong waktu, kembali kejaman dulu. Bukan menembus lorong waktu, namun mencari lokasi lokasi atau tempat dimana waktu seolah olah berhenti. Ya, tempat tempat yang suasasnanya masih seperti abad pertengahan, atau setidaknya masih jadul, atau tempat yang masih benul benul alami tanpa sentuhan kemajuan jaman.
     Tempat tempat yang seperti itu nampaknya sekarang laris manis diburu wisatawan. Tentu saja wisatawan yang tidak tergabung dalam travel biro yang perjalanannya sudah pakem, sudah diatur dari sononya. Yang bisa menikmati timetravel ini ya wisatwan mandiri, backpacker dsb yang memang sengaja mencari tempat tempat yang bukan merupakan obyek wisata yang sudah tertulis di buku buku panduan wisata, atau yang sudah disiapkan biro perjalanan wisata dsb. Mereka akan mencari obyek wisata yang lain dari pada yang lain. Ya itu tadi. Tempat dimana seolah waktu berhenti berputar, tempat yang belum tersentuh kemajuan jaman, tempat yang masih alami, seolah berada di abad yang lalu.

Beda lho dengan wisata sejarah
     Kalau kita ke Borobudur, Prambanan atau peninggalan kuno lainnya, kan juga wisata kemasa lalu?. Lha beda, kondisi borobudur, prambanan dan peninggalan lainnya kan sudah seperti kondisi saat ini. Disekitarnya sudah dibangun taman, hotel, warung souvenir, pokoknya suasana saat ini lah. Yang kuno hanya candinya, lainnya sudah barang baru semua.
     Jadi wisata ketempat tempat seperti ini tidak bisa disebut timetravel. Wisata kemasa lalu, ketempat yang kondisinya masih seperti kehidupan jaman dulu, yang kuno, yang belum tersentuh peradaban modern, pokoknya ketempat dimana jarum jam seolah berhenti berputar.

Wisata ke suku terasing?
      Apa ini namanya suku terasing, atau suku yang masih mempertahankan tradisinya, namun memang banyak suku suku yang dijadikan obyek wisata. Misalnya saja pemukiman suku Sasak di Lombok, atau suku Badui di Banten, atau suku laut yang membangun rumah dilaut seperti suku Torosiaje? Ini juga bukan termasuk timetravel.
      Suku suku asli/ terasing ini juga sudah tersentuh peradaban modern. Bahkan atas nama obyek wisata, ada pemukiman suku kuno ini yang dibuatkan oleh pemerintah, ditata yang baik hingga bisa menjadi destinasi wisata. Suku terasing artificial lah. Disitu sudah ada listrik, sudah ada alat angkut modern, bahkan sudah ada toko souvenir yang ditata dengan baik.

 Lalu yang bagaimana?
     Ya itu tadiii....wisata ketempat tempat yang masih asli, yang belum tersentuh peradaban modern, masih jadul, abad pertengahan, disini jarum jam seolah berhenti berdetak. Makanya wisata semacam in i hanya bisa dinikmati oleh para traveller, back packer dan wisatawan madiri yang tidak terikat oleh jadwal biro perjalanan.
      Lokasinyapun didapat dari gethok tular, dari mulut kemulut. Disuatu wilayah ada tempat yang masih sangat alami, penduduknya masih hidup seperti pada jaman awal abad lalu, dsb dsb. Lokasi semacam ini biasanya sepi, karena yang mengunjungi hanya wisatawan yang senang pada timetravel.
     Menurut buku yang aku baca, katanya negeri negeri dijantung asia tengah, merupakan tempat favorit bagi yang senang timetravel. Negeri negeri pecahan Uni Sovyet seperti Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan dsb, juga negeri Mongolia, Tibet, Nepal, Bhutan dsb adalah negeri negeri yang masih banyak mempunyai desa atau kawasan yang kehidupan masyarakatnya masih seperti hidup di abad pertengahan. Mereka lebih mengedepankan kehidupan spiritual dari pada kehidupan dunia. Fasilitas yang ada didesa itupun betul betul alami. Menu makan, cara hidup dsb masih belum tersentuh peradaban masa kini. Nah, desa desa seperti inilah tempat tujuan timetravel.
      Dan ternyata, tanpa kita sadari, pulau pulai di Indonesia timur ternyata juga banyak dikunjungi pemburu timetravel. Pulau pulau yang masih perawan, masih alami, kehidupan masyarakatnya sangat tradisional bagai awal abad lalu, tidak fasilitas modern, nah kesinilah para penggemar timetravel berkunjung. Keberadaan pulau pulau ini juga dengan cara dari mulut ke mulut antar turis. Bahkan kita di Indonesia banyak yang tidak tahu nama pulau itu dan dimana tempatnya di Indonesia timur sana. Tapi ternyata malah sangat terkenal dikalangan para turis timetravel.

Timetravel yang lain
     Saya sendiri pernah mempunyai pengalaman timetravel secara tidak sengaja, walaupun ya tidak seperti abad pertengahan atau abad kuno.
     Tatkala masih bertugas di Gorontalo tahun tujuhpuluh delapanpuluhan, saya pernah mengunjungi satu desa yang sangat jauh dari ibu kota kabupaten. Kesana harus naik kuda atau jalan kaki. Naik turun bukit, lewat punggung bukit, semak belukar dan alami yang masih perawan. Di tengah jalan, perjalanan harus berhenti untuk istirahat, bagi kudanya maupun orangnya. Tempat pemberhentian berupa jalan persimpangan yang dinaungi pohon besar. Distu banyak orang dari desa desa terpencil yang beristirahat. Dan ternyata juga ada pasar dengan sistim barter antara hasil bumi, hasil hutan dengan kebutuhan sehari hari. Wah, suasana dibawah pohon besar itu betul betul seperti suasana awal abad (lho, awal abad ini apa saya sudah lahir?) Pkoknya masih sangat alami lah....
      Juga saya pernah mengunjungi satu desa di kecamatan Salem, Brebes, yang terletak diperbatsan Jawa Tengah - Jawa Barat. Kala itu di awal tahun sembilan puluhan. Dari kota kecamatan masih harus  jalan kaki beberapa jam, lalu tiba disuatu desa yang saya lupa namanya. Dari berrangkat sampai pulang kembali ke kecamatan, ternyata pikiran saya dengan pikiran anggota rombongan yang lain sama : kok ya mau orang tinggal di tempat terpencil seperti ini. Suasana desa masih seperti tahun enampuluhan, masih jaman orde lama dulu. Banyak orang tua yang menganggur dirumah, diemperan rumah duduk duduk sambil memangku radio transistor, mendengarkan siaran RRI. Lalu diatas genteng selalu ada tampah yang terisi jemuran nasi aking. Wah, suasananya masih tertinggal limapuluh tahun ketimbang kotanya.

Nah, timetravel, wisata kemasa lalu, ketempat tempat yang masih alami, masih perawan, yang belum tersentuh peradaban, yang jarum jamseolah berhenti berdetak, inilah sekarang yang mulai banyak diburu oleh travellers.
Pertanyaannya, lha kalau semua desa akan dimoderenisasi, semua desa nanti nyaris sama, nyaris seragam, semua fasilitas modern masuk desa, kemana para traveller berburu timetravel?......................
    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Magelang sebagai destinasi wisata......layakkah....

     Layak sekali!!. Ya, tahun 2013 ini jateng mencanangkan Visit Jateng 2013. Banyak obyek wisata, banyak event wisata yang ditawarkan. Namun nampaknya hanya Semarang dan Solo yang dianggap andalan Jateng dalam menggaet wisata. Memang Solo dan Semarang sudah lebih dulu terkenal dan banyak obyek wisata yang ditawarkan, event event wisata dan yang lebih penting adalah dukungan pemerintah dalam mengembangkan wisata. Lha Magelang itu hanya dianggap bayang bayang Jogja. Jogja sebagai destinasi wisata kedua sesudah Bali, banyak obyek wisata, namun ada juga obyek wisata yang sebenarnya miliknya Magelang. Contohnya saja Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, namun wisatawan yang kesini kebanyakan nginapnya di Jogja.
     Lalu kalau Magelang akan dikembangkan sebagai destinasi wisata yang potensial di Jateng, apa saja sih obyek wisatanya yang dapat diandalkan? Banyak sekalee....tinggal memoles, mengemas dan yang penting mengiklankan ke berbagai media agar dikenal luas, serta dukungan sarana prasarananya. Ini kira kira beberapa obyek wisata yang ada di Magelang :

Wisata alam/taman
     Wisata alam dan taman di Kota Magelang yang terkenal adalah Taman Kyai Langgeng. Taman ini sudah lama menjadi tujuan wisata domestik, terutama anak sekolah dari propinsi lain, keluarga dan instansi pemerintah dan swasta. Taman Kyai Langgeng ini menempati areal selaus lk 27 Ha, dengan obyek andalan adalah pelestarian alam. Disini banyak tanaman langka, buah buahan, tanaman obat dan tanaman kehutanan yang dikoleksi cukup banyak. Juga taman bermain anak sperti kereta mini, jet coaster, ayunan, komidi putar. Juga tersedia kolam renang, areal pancing, jogging track dsb. Dewasa ini taman Kyai Langgeng juga menambah fasilitas wisata berupa desa buku dan wisata dirgantara.
     Disamping Taman Kyai Langgeng, juga ada taman yang cukup terkenal, namun hanya untuk wisata lokal, yakni Taman Badaan. Taman ini sangat kecil dan hanya ada fasilitas tempat bermain anak, ruang terbuka hijau dan kuliner. Tapi tiap hari selalu padat dikunjungi warga lokal/ Magelang sendiri. Mungkin karena kurang ruang publik dan atau untuk momong anak, maka taman ini selalu ramai. Lagian taman ini gratis, tidak dipungut karcis masuk

Arung jeram
     Ini yang dikategorikan wisata olah raga minat khusus, karena tidak semua orang berani melakukannya. Wisata arung jeram ini sekarang ada tiga pengelola, satu di Kota Magelang dengan start dari Hotel Puri Asri, menyusuri sungai Progo kearah hilir dan finish di Kabupaten Magelang. Lalu ada lagi yang start di wilayah Blondo Kab. Magelang, menysuri sungai Elo, dan satu lagi yang star dari kab. Magelang dan menyusuri sungai Progo.
     Dewasa ini wisata arung jeram sudah banyak sekali peminatnya. Mungkin karena sungai progo yang cukup deras arusnya, namun tidak berbahaya. Juga arung jeram ini sering dipadukan satu paket dengan kegiatan outbond bagi karyawan perusahaan.
 
Museum
     Nah, obyek wisata museum ini yang kadang tidak terperhatikan! Padahal Magelang ini banyak sekali museum yang berkaitan dengan sejarah maupun kebangkitan suatu organisasi ataupun perusahaan. Diantara museum yang ada di kota Magelang antara lain :
  • Museum Diponegoro, tempat P. Diuponegoro ditangkap Belanda
  • Museum Bepeka, milik BPK RI, merupakan gedung bekas kantor peertama BPK RI
  • Museum Taruna Abdul Jalil, di komplek AKMIL
  • Museum Sudirman, menyimpan barang barang kenangan milik panglima Sudirman
  • Museum Bumi Putera, tempat pertama kali asuransi Bumi Putera berdiri
bangunan kuno
     Bangunan kuno adalah jejak sejarah masa lalu akan sebuah kota. KOta yang bisa memelihara bangunan bangunan kuno, adalah kota yang mempunyai jejak masa lalunya. Sayang banyak kota yang tidak peduli terhadap bangunan masa lalu dan menghancurkannya serta mengganti dengan banguan modern. Maka jejak dan cerita masa lalu kota itu sudah hilang lenyap ditelan bumi. Nah, Magelang adalah kota yang masih dapat memelihara bangunan kunonya. Adapun bangunan kuno di Magelang antara lain :
  • Rumah / Kantor residen:  komplek eks Karesidenan Kedu
  • eks Kantor Polwil Kedu: Pada jaman Belanda ini adalah sebuah hotel, yakni Hotel Montagne
  • Water toren:  Menara air minum, di alun alun Magelang
  • Gedung Mosvia (Sekolah Pegawai Pangreh Praja): sekarang menjadi kantor Polresta Magelang
  • Gedung HKS( Holland KweekSchool) : sekarang menjadi Kantor Catatan Sipil, Kantor Transmigrasi, TK Pertiwi dan Perusda Percetakan
  • Groteweg Noord: sekarang dikenal sebagai pondok sriti, di komplek Rindam
  • Gereja St. Ignatius, alun laun lor
  • Gereja GPIB, alun alun lor
  • RST( Rumah Sakit Tentara)
  • Bangunan rumah tinggal di komplek Kwarasan
  • RSU Tidar
  • SMP I Magelang
  • SMK Wiyasa jl. Tidar
  • RSJ( Rumah Sakit Jiwa)
  • GKJ Bayeman
  • Gedung Bundar Jl. Sriwijaya
  • Gerbang Kerkoff Jl Ikhlas
  • Markas Kodim
  • Rumah tinggal di Bayeman
  • Klenteng Tribakti
  • Masjid Agung Kauman
Wisata ziarah
     Wisata ziarah ini yang justru sangat ramai, karena berkaitan dengan kepercayaan. Sayang potensi ini masih belum digarap maksimal. Andai digarap lebih baik mdisertai fasilitas pendukung dan onbyek wisata lainnya, maka obyek wisata ziarah ini bisa berkembang pesat. Diantara obyek wisata ziarah yang ramai dkunjungi adalah:
  • Makan Syech Subakir di Gunung Tidar. Sebenarnya disini ada 3 makan, yakni makam Syech Subakir, makam Kyai Panjang dan makam Kyai semar. Tapi yang paling ramai dikunjungi ya makam Syech Subakir itu, yang konon merupakan salah satu penyebar agama Islam ditanah Jawa
  • Makam Kyai Tuk Songo, Cacaban
  • Tuk Drajat
Olah raga/ permainan
     Wisata olah raga yang terkenal adalah padang golf. Karena terletak ditengah kota. Biasanya padang golf kan ada diluar kota. Kalau di Magelang justru ada ditengah kota. Ya, karena padang golf ini miliknya Akmil. Banyak event golf yang menjadi agend tahunan disini
     Disamping itu, arena Tenis indoor juga sering mengadakan acara tahunan kejuaraan tenis, dalam rangka mencari bakat

Wisata kuliner
     Tentu saja ini menjadi ciri khas sebuah kota tujuan wisata, bagaimana menyajikan kuliner dan oleh oleh khas kotanya. Bagi penggemar kuliner, kota Magelang telah menampilkan diri, menata wisata kuliner dengan baik, diupusatkan dibeberapa titik. Antara lain, Pusat kuliner sejuta Bunga, di jl.Sudirman, Kuliner Tuin Van Java, di alun alun lor, Kuliner Kartika sari, di stadion Abu Bakrin, dsb
    Bagi yang ingin masakan khas juga ada, misalnya warung senerek, makanan khas buntil, dsb. Rumah makan khas masakan Jawa sekarang banyak bertebaran seantero kota. Juga rumah makan oriental/ Cina
     Adapun oleh oleh khas magelang seperti gethuk, slondok, kripik tahu dsb, banyak dijumpai di toko toko oleh oleh yang bertebaran diseluruh kota

Event Wisata
     Event wisata yang masuk dalam agenda wisata kota Magelang antara lain,
  • Grebeg gethuk: setiap hari jadi kota Magelang, 11 April
  • Saparan: Kelurahan Wates
  • Nyadran Tuk Songo: Kelurahan Cacaban
  • Pagelaran wayang kulit: Meteseh, dalam rangka hari jadi
  • Pawai alegoris taruna AKMIL, 
Dukungan wisata
    Tentu saja sebuah destnasi wisata harus didukung dengan fasilitas wisata, agar wisatawan yang datang betah tinggal di Magelang. Dukungan wisata antara lain :
  • Hotel: mulai hotel bintang 5, hotel melati sampai hotel krusek adaaa
  • Rumah makan : baik rumah makan tradisional, cina, kuliner, banyak dijumpai
  • Pusat jajanan dan oleh oleh khas magelang
  • layanan taksi
  • angkota. Melayani jalur dalam kota. Ada 12 jalur yang menghubungkan seluruh bagian kota

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bering Harjo, kalau ke Jogja harus mampir....

     Kalau kita ke Jogja, obyek wisata yang harus dikunjungi adalah Malioboro tentu saja. Berjalan jalan disepanjang Malioboro dari selatan di titik nol kilometer sampai utara, yakni setasiun tugu, tentu nggak lengkap kalau nggak mapir ke pasar Bering Harjo yang legendaris itu. Dulu, pasar ini ya seperti pasar tradisional biasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, perkembangan pariwisata, pasar in i telah berbenah dan kini sudah menjadi obyek wisata, tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun asing yang mengunjungi Jogjakarta.
     Memasuki pasar Bering Harjo ini kita sudah dihadang keruwetan, karena persis didepan pintu masuk, merupakan kawasan batik yang sangat ramai pengunjung. Apabila kita terus masuk kedalam, ternyata pasar ini terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh sebuah jalan. Di bagian timur sebenarnya sudah masuk kawasan ketandan, namun sekarang orang akan tetap menganggap bahwa itu juga kawasan pasar Bering Harjo.
     Seiring dengan perkembangan, apa saja yang dapat kita jumpai di pasar yang legendaris ini?

Pusat Batik
     Pusat batik ada di lantai 1, persis didepan pintu masuk. Menempati areal yang sangat luas, los dan kios dengan banyak gang kecil dan penuh sesak oleh pengunjung serta tumpukan kain batik. Disini kita mempunyai banyak pilihan, mulai dari batik halus, batik cap dan batik printing. Mulai dari bahan belum jadi, sampai hem, rok dan busana jadi lainnya. Juga tas batik, celana pendek batik dan celana panjang batik, semua ada tinggal pilih sesuai keinginan kita.
     Mengenai harga tentu saja sebagai pasar yang masih termasuk pasar tradisional, maka tawar menawar perlu dilakukan. Tapi jangan kawatir, kalau toh ada tawar menawar, harganya tidak terlalu jauh kok. Disamping kain baik, busana batik per potong, kita juga bisa membeli grosiran untuk dijual lagi. Harganya tentu saja berbeda.
 
Busana Muslim
     Di lantai atas kita bisa menjumpai aneka busana muslim, baik untuk pria maupun wanita. Juga aneka jilbab, kerudung, pasmina dan pernik persik asesori busana muslim dapat kita jumpai disini. Mulai dai harga yang dihitung perpotong sampai yang kodian untuk dijual lagi, semua dapat kita jumpai.
     Disamping busana muslim, kita juga bisa menjumpai aneka busana masa kini dan pakaian sehari hari. Terselip diantara kios busana muslim, kita bisa menemukan aneka hem, kaos, T shirt dan pakaian kebanyakan lainnya.
Pakaian jawa/ pengantin
     Jika kita ingin pakaian jawa, beskap, surjan, blankon dan perlengkapan pakaian jawa lainnya, kita juga bisa menemukan disini. Letaknya menyambung dengan kios/ los batik. Bila kita ingin beskap gaya Jogja atau gaya Solo, lengkap dengan kain panjangnya, ikat pinggang, selop, blangkon dsb, semua tersedia disini.
     Demikian juga pernak pernik busana pengantin jawa, dapat kita jumpai disini. Bhakan busana pakaian pengantin moderenpun kita bisa menjumpai disini. Mungkin para pedagang juga menyesuaikan, karena permintaan pasar.

Pernik/ asesori/ handicraft pernikahan
     Bingung memperoleh cendera mata bagi tamu di acara pernikahan?. Jangan kawatir, disini banyak sekali kios yang menyediakan. Mulai yang berbentuk kipas sederhana, dompet kecil sampai yang lebih bagus lagi, tergantung selera dan kantong kita. Harga tentu disesuaikan dengan barangnya.
Emas
     Pedagang emas ini semestinya termasuk cikal bakal keramaian pasar Bering Harjo. Namun seiring dengan penataan pasar, pedagang emas sekarang telah ditempatkan di sebelah belakang yang sebenarnya sudah masuk kawasan ketandan. Berderet deret, karena pedagang emas biasanya etnis Cina, maka kawasan ketandan ini bagaikan kawasan pecinan. Mereka juga tinggal disini, yakni dilantai atas. Jadi sebelum ada istilah ruko, mereka sudah mengenalnya sejak beberapa dekade yl.
    Perdagangan emas ini juga diramaikanoleh pedagang emas kaki lima, yakni yang hanya bermodalkan timbangan emas, alat untuk melihat kadar emas, yang diletakkan diatas meja kecil dan kursi sekedar untuk duduk. Pedagang emas kaki lima ini biasanya menerima perhiasan emas yang sudah rusak, yang hilang nota pembeliannya dan yang agak dikit dikit gelap, untuk dijual lagi.
 
Barang antik/ Barang bekas
     Barang antik, barang bekas, ini juga termasuk cikal bakal keramaian pasar Bering Harjo pada awalnya dulu. Menempati gang sebelah utara pasar dan di lantai 3. Kita bisa menemukan keris kuno, patung patung perunggu, lukisan dan barang antik lainnya. Berburu barang antik termasuk sesuatu yang mengasyikkan.
     Selain itu kita juga bisa memperoleh keris sebagai asesori busana jawa, mulai keris yang hanya sekedar kelengkapan busana/ pajangan, sampai keris antik yang berumur cukup tua. Namun ada juga keris baru yang belum mempunyai gagang dan warangka.
     Namun untuk barang bekas ini yang terasa hilang adalah baju baju bekas. Mungkin sudah digeser lebih ketimur. Padahal baju bekas ini juga sangat mewarnai keramaian pasar Bering Harjo tempo dulu. Mahasiswa yang kahabisan uang biasanya akan lego pakaian disini.

Sembako/ sayur/ kebutuhan dapur
     Jangan dianggap sebagai kelengkapan sebuah pasar, yang harus ada los untuk barang yang satu ini, sayur mayur, buah, sembako dan bahan kebutuhan sehari hari lainnya juga masih dapat kita jumpai disini.  Letaknya dibagian belakang, bahkan ada tempat untuk bongkar muat sayuran, buah dsb.

Kuliner
     Nah, sekarang semua pasar tradisional juga dilengkapi dengan pusat jajanan/ kuliner, untuk menarik pengunjung, menyediakan makan bagi pengunjung maupun para pedagang. Kuliner di pasar Bering Harjo ini sangat beraneka macam, tinggal bagaimana selera kita
     Di bagian depan, depan pintu masuk, kita dapat menjumpai  pecel dengan aneka sayuran hijau, lauk sate telur puyuh, bacem tahu, tempe dan burung puyuh serta masih banyak lagi. Juga aneka minuman, seperti dawet, es buah dsb.
     Di lantai 3 ada puja sera yang menyajikan aneka makanan. Kita bisa menjumpai soto, sate, bakmi dan makanan lainnya. Lengkap tersaji dalam suasana yang enak.
     Nah, kalau ingin merasakan makanan rakyat, kelas bakul atau pengunjung menengah kebawah, dilantai 1 bagian belakang kita bisa menjumpai warung soto, ramesan, gule dan lain masakan yang disediakan untuk para pedagang dan pengunjung dengan harga yang lebih murah.
 
rempah rempah/ jamu 
     Di Pasar bering harjo ini kita juga bisa menjumpai kios kios yang menjual aneka rempah rempah dan jamu jawa seperti jamu godogan, jamu siap seduh dan jamu ramuan. Kita dapat juga menjumpai misalnya gula jawa rasa jahe, tinggal diseduh sudah rasa jahe.
    Seiring kemajuan jaman, disini juga disediakan aneka bahan baku aroma terapi untuk keperluan spa dan salon atau untuk dipakai sendiri. 

Aneka kebutuhan rumah tangga/ dapur
    Jika kita ingin dandang, panci, ember dsb, dipasr ini masih ada deretan toko, kios yang menyediakannya. Juga peralatan untuk katering dan dapur untuk rumah makan, dapat kita jumpai disini.

Nah, dengan lengkapnya pasar Bering Harjo, pasar yang legendaris ini, jangan lewatkan kalau suatu saat ke Jogja, mampirlah ketempat ini. Dikatakan legendaris karena pasar ini yang membangun adalah pada masa Sri Sultan Hamengkubuana I, sebagai pasar kerajaan pertama kalinya, untuk menggerakkan roda perekonomian rakyatnya.
Pasar ini juga bisa menjadi contoh bagaimana revitalisasi pasar tradisional menjadi pasar yang representatip dan menarik, tanpa harus menghilangkan sifat sifat tradisionalnya. Jadi jangan hanya menggusur dan menggantinya dengan mal atau pasar moderen lainnya. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

City tour, apa yang bisa dilihat.......

     Pada acara pertemuan, diklat, seminar, rapat dsb disebuah kota, tidak jarang panitia menyiapkan acara city tour. Peserta diajak untuk berkeliling kota melihat kota tempat acara diadakan. Banyak obyek obyek yang bisa dilihat, namun tidak jarang city tour tsb hanya berakibat kecewa karena tidak ada obyek yang bisa diandalkan. Pada acara seperti itu, city tour adalah sarana untuk memamerkan kota kepada peserta.
     Mestinya Pemerintah daerah atau Dinas Pariwisata setempat sudah mulai memikirkan, apabila suatu saat ada event dikotanya, apa yang bisa dipamerkan kepada peserta event? Apabila peserta diajak keliling kota, apa yang bisa diandalkan untuk dipamerkan? Dengan city tour, suatu kota akan berbenah dan bisa menata kotanya sehingga layak untuk dipamerkan. Sekarang, jangankan untuk dipamerkan kepada orang luar, apalagi untuk destinasi wisata, lha wong untuk dinikmati warganya saja, kadang tidak bisa. Nah kalau sebuah kota akan disiapkan untuk city tour, apa yang kira kira bisa diperbuat.

Kota tua, bangunan kuno
     Kota kota yang bisa mempertahankan bangunan bangunan tua, biasanya akan menjadi daya tarik wisatawan. Bahkan kalau bangunan tua tersebut berada dalam satu kawasan dan terjaga kelestariannya, maka akan disebut kota tua. Banyak kota yang bisa mempertahankan bangunan tuanya seperti misalnya Semarang dengan gereja blenduk dan sekitarnya yang lalu disebut kota tua. Klenteng Sam Po Kong, Lawang sewu dsb. Di Jogjakarta, maka kilometer nol akan menjadi andalan bangunan bangunan tua. Gedung Agung, benteng Vredeburg, gedung BI, Kantor pos dan museum, semua merupakan bangunan tua yang akan menarik wisatawan. Demikian juga Bandung, Surabaya, Malang dan Jakarta, semua punya itikat untuk mempertahankan bangunan tua, kota tua, sebagai daya tarik wisata.
     Kota Magelang sendiri juga bisa mengandalkan bangunan tua, antara lain gedung Bakorwil II yang dulunya karesidenan Kedu, tempat P. Diponegoro ditangkap Belanda. Bangunan lain seperti komplek militer, RST dsb, bisa untuk destinasi wisata.

Museum
     Jejak masa lalu yang disimpan dalam museum, akan menjadi daya tarik wisata bagi yang menggemarinya. Barangkali Jakarta yang terdepan dalam hal ini, karena disana banyak terdapat museum yang layak dikunjungi, baik sebagai destinasi wisata maupun untuk belajar bagi siswa sekolah.
     Di Magelang sendiri walau kota kecil, namun disini banyak berdiri museum seperti museum Diponegoro, museum Sudirman, museum Abdul Djalil di Akmil, museum Bumi Putera, museum Keuangan dsb. Semua apabila dikelola dengan baik disertai promosi yang gencar akan menjadi obyek wisata yang bisa diandalkan.

Taman publik
    Jangan membayangkan Tahir square di Cairo, Tianamen di Beijing, atau taman taman di LOndon, Hongkong dsb yang bisa menjadi tempat berkumpul warga dan daya tarik wisatawan. Banyak kota di Indonesia yang tidak mempunyai taman umum, ruang publik, tempat warganya rindu untuk datang, sekedar duduk duduk, tempat warga berinteraksi. Ini akan menjadi daya tarik wisata, terutama wisata lokal.
    Memang ada alun alun disetiap kota. Tapi banyak alun alun yang sudak diokupasi oleh kaki lima, warga tertentu sehingga tidak nyaman untuk wisatawan.
     Taman taman lain bisa untuk destinasi wisata, misalnya taman pantai, pinggiran sungai yang ditata apik, juga taman taman tematik sebagai upaya pelestarian l,ingkungan.

Kuliner
     Kalau yang ini biasanya dapat diandalkan. Banyak pemerintah daerah yang tertarik untuk mengembangkan wisata kuliner yang khas di daerahnya. Pusat pusat kuliner banyak dibangun dengan representatip sehingga menarik  wisatawan
    Disamping pusat pusat kuliner, juga ada rumah makan yang khas suaru daerah. Biasanya yang seperti ini akan diserbu wisatawan. Ada satu rumah makan yang mengembangkan khas msakan laut, ada yang khas bebek, pokoknya yang beda beda dengan yang lainnya.

Pusat oleh oleh/ cendera mata
     Kalau kita mengunjungi suatu daerah, tentu kita ingin membawa pulang apa yang khas dari daerah tsb. Bisa berupa makanan khas, bisa berupa barang khas yang tidak ada di kota lain. Gudeg, getuk, bakpia, wingko babat, bandeng presto dsb
    Di kota kota tujuan wisata, akan berkembang toko toko yang menyajikan oleh oleh khas daerah masing masing

Mal
     Wah ini yang justru ramai dikunjungi wisatawan, namun wisatawan lokal. Satu kecenderungan, yakni kota berlomba lomba untuk membangun mal. Namun agar mal tsb mempunyai arti sebagai tempat tujuan wisata, mestinya disitu juga dibangun misalnya grosir, batik, bordir, cendera mata khas dsb. Kalau selama ini yang terjadi, mal hanya akan menerik wisatwan lokal, orang orang sekitar kota untuk cuci mata.

Kampung tematis
     Ini trend baru, membangun kampung kampung diperkotaan dengan tema tema khas. "One Village One product"  Sekarang banyak bermunculan kampung batik Lawiyan di Solo, Kampung batik Kauman. Ada juga kampung dengan kerajinan tertentu, lalu disitu diperagakan cara membuatnya, lalu ada show room yang memajang hasil kerajinan. Sayang kadang harga di show room di desa tsb lebih mahal dibanding tempat lain.
      Kampung tematis lain yang bisa menjadi daya tarik wisatawan misalnya kampung yang membuat kegiatan pengolahan sampah, daur ulangnya, memilahnya, mengolah menjadi kompos, mengolah menjadi kerajinan lain dsb.
     Ada juga yang lagi ngetrend dan bisa untuk wisata pendidikan, yakni kampung inggris, dimana oranmg satu kampung diharuskan berbicara dalam bahasa inggris. Ini akan menjadi daya tairik, banyak anak sekolah yang menyempatkan kesini untuk memperlancar ber cas cis cus.

Kota yang kehilangan masa lalunya
    Banyak yang bisa dikerjakan oleh pemerintah daerah untuk membangun, sehingga kota itu menarik untuk city tour. Apa bila suatu saat ada event tertentu di kota itu, maka panitia tidak akan bingung bingung menyelenggarakan city tour, karena banyak obyek yang layak dipamerkan.
     Sayang pembangunan yang pesat kadang tidak berpihak kepada bangunan bangunan lama. Banyak bangunan lama yang dihancurkan, diganti bangunan baru yang modern, mal, supermarket, pasar moderen dan bangunan lain.
     Kotaku di Karanganyar sana, barangkali apabila ditanya, seperti apa wajah Karanganyar 50 tahun yang lalu, tidak ada yang bisa menjelaskan. Semua bangunan tua telah lenyap diganti bangunan baru yang akan mengubur sejarahnya. Kotaku betul betul telah kehilangan masa lalunya.

Lalu kalau city tour sepertinya menjadi salah satu acara tambahan pada satu event di suatu kota, mestinya pemerintah daerah setempat mulai memikirkan, apa yang bisa diandalkan, apa yang bisa dipamerkan.
Lalu mestinya juga memikirkan rute, onyek yang kan dikunjungi. Taruhlah bila ada one day tour, bagaimana rutenya, obyek apa yang dikunjungi dsb. Nah, Pemda cq Dinas Pariwisata, selamat bekerja. uji coba mungkin bisa dilakukan untuk para pejabat, anak sekolah dsb untuk diajak city tour.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pasar Tradisional, sebagai tempat tujuan wisata....

     Bicara mengenai pasar tradisional, tentu pikiran kita mengarah kepada pasar yang kumuh, kotor, semrawut, basah, tidak teratur dsb. Makanya pasar tradisional diistilahkan wet market. Barang yang dijualpun mutunya dibawah pasar moderen/ swalayan/ upermarket. Harganya juga dengan sistim tawar menawar, bukan harga pas. Namun bagaimanapun juga pasar tradisional ini tetap dibuituhkan untuk melayani masyarakat kelas menengah kebawah.
     Dibanyak kota, telah banyak pasar tradisional yang berubah menjadi pasar moderen. Contohnya saja di Solo, pasar Singosaren tempo dulu telah berubah menjadi pusat pertokoan Matahari dsb. Namun banyak pula Pemerintah Daerah yang cerdas, menata pasar tradisional menjadi pasar m oderen yang bersih, tertata rapi dengan tidak meninggalkan ciri pasar tradisional, dan tetap diperuntukkan bagi pedagang/ masyarakat kelas bawah. Ciri pasar tradisional adalah tetap ada kios kios, los dan pedagang oprokan/ lesehan.
     Kios, bentuknya tertutup seperti toko kecil, berukuran 3 x 4 m, 4 x6 m dsb sesuai kondisi pasar, dengan pintu kuat, biasanya dibangun mengelilingi pasar. Los, dibangun ditengah pasar, berupa bangunan panjang, dimana pedagang mendapat jatah kapling kosong, misalnya 3 x3 m, 2 x2 m dsb, kemudian pedagang membangun dengan bahan semi permanen, misalnya dengan bahan dari kayu, kotak, lemari, dasaran dsb dengan bentuk ukuran yang telah ditetapkan. Los ini pada umumnya telah ada pembagian sendiri, misalnya los khusus daging, los khusus sembako, los sayuran dsb. Oprokan ialah los yang diperuntukkan pedagang yang tidak mampu membeli kios ataupun los.
    Pasar tradisional yang sudah direnovasi dan ditata bagus tentu akan menarik untuk dikunjungi. Pembelipun merasa lebih nyaman. Dan biasanya pasar tradisional yang sudah direnovasi ini dibagian belakan ada los khusus untuk makanan dan jajanan. Ada yang sudah dikemas seperti foodcourt, ada yang dikemas menjadi puja sera, namun ada pula yang masih berbentuk tradisional dengan warung warung makan. Aneka jajanan dan masakan dapat kita jumpai disini. Nah.....kesinilah tempat tujuan wisata kuliner kita kali ini.

Aneka jajanan
     Kita dulu tentu mengenal istilah jajan pasar. Ada jajanan klethikan/snak seperti marning, klanting, emping, peyek, kripik dsb yang tradisional. Ada juga jajanan kue basah, apem, klepon, getuk tadisional, sawut dan jajanan lain yang hampir punah, yang hanya bisa kita jumpai dipasar tradisional. Sangat baik untuk mengajak anak anak kesini, mengenalkan mereka dengan jajanan tradisional. Disaat mereka hanya kenal jajanan modern dan instan. Chiki, coklat, donat dsb.

Aneka lauk matang
     Bagi ibu rumah tangga yang sibuk, wanita karier, atau mereka yang tidak sempat memasak dirumah, maka pasar tradisional bisa menjadi alternatif sepulang kantor langsung mampir kesini. Tinggal pilih, bungkus, bayar, sampai dirumah tinggal menikmati. Aneka sayur, lodeh, bening, gudeg, masakan cina, juga lauk, sate, ayam goreng, baceman, penyetan, sea food dsb.

Aneka masakan
     Tidak ingin membawa pulang dan ingin dinikmati disini?...Aha..ini tempatnya. Warung tradisional, pujasera, foodcourt, banyak menyertai pasar tradisional yang sudah ganti wajah ini. Mau nasi goreng, bakmi tradisional, bakmi ala cina, sate, gule, soto, bakso....semua ada. Tinggal pilih sesuai selera kira. Tempatnyapun sekarang sudah bersih, teratur tertata rapi, membuat para pengunjung betah dan suatu saat akan kembali lagi kesini.

Bagi anda yang tidak ingin makan disini dan ingin memasak sendiri dirumah, jelas pasar tradisional ini tempat untuk mendapat bahan mentah. Aneka sayuran segar, buah buahan, ikan laut, ikan air tawar, daging ayam, sapi dsb tersedia disini dengan los yang sudah teratur dan bersih.

Namun menjadi pertanyaan, apakah pasar tradisional yang sudah direnovasi ini bisa dipertahankan terus kebersihan dan keteraturannya oleh pedagang, pengunjung dan pengelola?.Jangan jangan cuma pada tahun tahun pertama kelihatan bersih, rapi, teratur, lalu tahun berikutnya kembali seperti pasar tradisional waktu lalu, kumuh, kotor, semrawut........ 

Jangan berpikir negatip dulu...so, mari berwisata kepasar tradisional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Desa Wisata, sebagai destinasi wisata yang lagi ngetren

     Wisata saat ini cenderung kembali ke alam,. kembali hal hal yang bersifat natural. Memang wisata yang bersifat instan juga semakin banyak, misalnya mal, tempat perbelanjaan dsb. Namun arus yang lebih kuat adalah wisata kembali kealam. Pantai, gunung, hutan dan alam yang masih perawan, yang masih segar, yang belum tercemari makin banyak diburu oleh wisatawan.
     Kondisi ini lalu ditangkap oleh pemerintah daerah maupun usaha usaha wisata, untuk menyiapkan destinasi wisata baru yang cenderung kembali kealam. Destinasi wisata baru itu bisa berupa pantai yang belum digarap, gunung, alam yang indah, trek pedesaan dsb.
     Yang lagi ngetren saat ini adalah adanya "desa wisata". Yakni desa pemukiman yang jauh dari perkotaan, dimana masyarakatnya masih asli, petani atau usaha kerajinan tradisional dsb, yang lalu dibenahi, ditambah fasilitasnya, jalan yang mulus, warung souvernir, home stay dsb, yang pada dasarnya adalah untuk menarik wisatawan. Apa saja yang menarik dari desa wisata tsb?

Melihat kehidupan masyarakat desa
     Orang kota, wisatawan yang terbiasa dengan kehidupan kota yang ingar bingar, sibuk, dikejar oleh waktu, dengan mengunjungi desa wisata akan dipeerkenalkan dengan tata kehidupan masyarakat desa yang masih alamiah dan tradisional. Bangun pagi ke masjid, lalu mandi di kali atau di kamar mandi yang mesti harus menimba dulu, lalu memasak, sarapan dengan hidangan masakan tradisional, diambil dari kebun dibelakang rumah, dsb, pokoknya bagaimana kehidupan masyarakat desa yang ayem, tenteram, alon alon waton kelakon .......

Melihat alam yang masih asli
     Alam pedesaan yang masih asli, segar, jauh dari polusi, ini yang akan membuat wisatawan betah menikmati wisata alam pedesaan. Dari pemerintah maupun pelaku wisata lalu menyediakan fasilitas berupa joging trek, atau trek sepeda, atau setidaknya jalan jalan pedesaan diatur mulus, bagi yang hanya ingin jalan jalan dapat menikmatinya. Ada hamparan sawah, tegalan, saluran irigasi, kolam ikan, kandang ternak dan rumah rumah penduduk dengan gaya pedesaan

Menghayati kehidupan petani
     Banyak desa wisata yang juga menyediakan paket agar wisatawan dapat merasakan langsung kehidupan petani. Ada paket ikut membajak sawah dengan bajak tradisional yang ditarik kerbau, ada paket ikut menanam padi disawah, dimana wisatawan ikut terjun kesawah dengan berkubang lumpur, ada paket memandikan ternak disungai, dsb. Pendek kata wisatawan diajari dan ikut merasakan bagaimana kehidupan dipedesaan khususnya petani.

Membuat kerajinan tangan
     Desa wisata umumnya juga menonjolkan kerajinan tangan khas desanya. "one village one product". Ada desa wisata penghasil kerjinan anyaman bambu, ada desa wisata penghasil kerajinan gerbah, batik, kain songket, batu akik, makanan khas, cendera mata, furnitur tradisional, dsb. Desa desa ini umumnya juga menyediakan paket cara membatik, membuat aneka makanan, membuat gerabah dsb yang dapat diikuti wisatawan yang datang.

Melihat upaya pelestarian alam/ lingkungan
      Desa wisata diderah pesisir, kita bisa melihat upaya pelestarian alam dengan menanam bakau/ mangrove, pelestarian penyu, upaya menahan abrasi dsb. Desa di pedalaman, kita bisa melihat desa yang melestarikan burung bangau, hewan lain yang terancam punah, penangkaran hewan dan pembibitan tanaman, bunga dsb. Dengan mengunjungi desa wisata tsb kita diajari mencintai alam dan ada upaya untuk ikut serta melestarikannya.

Ternyata tidak semua alamiah
     Sisi kurang dari desa wisata kita adalah sentuhan modernisasi telah merambah kedesa. Tidak semua rumah bergaya tradisional khas daerah. Rumah rumah yang bergaya moderen, gaya spanyol, mediterania dan apa lagi namanya, banyak dijumpai. Juga papan reklame, tiang listrik, menara seluler dan tanda tanda kehidupan moderen telah masuk kealam pedesaan. Di Bali, Jepang, Cina, katanya ada desa wisata yang tetap dilestarikan wajah dan bentuk sepeerti desa di abad lalu. Tidak ada jalan aspal, tidak ada tiang listrik dan rumah rumahpun dipertahankan  bentuknya seperti rumah tempo dulu. Desa seperti ini sangat laris untuk shooting film yang bersetting abad pertengahan. Kalau ditempat kita apa ada desa seperti ini?

Kemana kita akan mengunjungi desa wisata?
     Jika kita ingin mengunjungi desa wisata, kemana kita akan menuju?. Tetapkan dulu desa wisata macam apa yang akan kita kunjungi. Kita ingin melihat kehidupan petani, atau akan ikut melestarikan alam, atau ingin mempunyai pengalaman naik turun bukit, menyusuri sungai, atau jogging sepanjang jalan pedesaan, atau ingin membatik, membuat gerabah, atau hanya sekedar melihat kehidupan pedesaan? Dibawah ini contoh desa wisata yang bisa kita kunjungi dengan kekhasan dan keunggulan masing masing.

Bali
    di Bali banyak sekali desa wisata dengan kekhasan masing masing, tinggal kita ingin yang mana yang akan kita kunjungi. Antara lain adalah:
  1. Desa adat Panglipuran, Bangli - Bangli. Disini kita akan melihat kehidupan adat dan khasnya adalah tanaman dan bangunan dari bambu.
  2. Desa Belega dan Bona, Blahbatuh - Gianyar. Kekhasan kedua desa ini adalah produk kerajinan dan cendera mata.
  3. Desa Gelgel, Klungkung - Klungkung. Khasnya adalah kain tenun/ songket.
  4. Desa Baha, Mengwi - Badung. Pemukiman dan kehidupan warga desa.
  5. Desa Jatiluwih, Penebel - Tabanan. Disini kita akan menjumpai sawah terasering yang terkenal itu.
  6. Masih banyak desa wisata di Bali, al; Desa Sebatu, desa Kemasan, desa Taro dll.

Jogjakarta
     di Jogja, sebagai destinasi wisata kedua sesudah Bali, juga tidak kalah banyak mempunyai desa wisata. Bila kita mengunjungi Jogja, kita bisa mengunjungi desa wisata antara lain adalah :
  1. Desa Brayut, Pendowoharjo - Sleman. Kekhasan utama adalah kehidupan masyarakat Jawa dan budayanya serta rumah rumah joglo.
  2. Desa Brayan, Sendang Arum - Minggir. Khasnya adalah kerajinan bambu dan kesenian tradisional seperti salawatan dan kuntulan.
  3. Desa Grogol, Margodadi - Seyegan. Khasnya adalah upacara adat, makanan khas, pertanian dan pembuatan wayang kulit/ kerajinan sungging.
  4. Desa Turgo, Purbobinangun - Pakem. Khasnya adalah bekas letusan gunung merapi, treking pedesaan, mengolah teh pedesaan dsb.
  5. Desa Kinahrejo. Saat ini mungkin yang paling terkenal, karena disini tempat tinggal Mbah Marijan, juru kunci/ penunggu gunung Merapi, yang tewas akibat letusan gunung merapi yl. Disini kita bisa menyewa mobil dobel gardan atau sepeda motor trail untuk melihat bekas letusan gunung merapi yl
  6. Masih banyak desa wisata di Jogja, al. Desa Trumpon, desa Kelor, desa Garongan, desa Kasongan dsb         

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gili Terawangan itu memang indah

     Jika anda berkesempatan mengunjungi pulau Lombok, jangan lewatkan mengunjungi pulau Gili Terawangan, Salah satu gugsan pulau pulau kecil di bagian barat laut pulau Lombok. Disana ada tiga pulau, yakni Gili air, Gili Meno dan Gili Terawangan. Ketiganya indah semua, namun yang paling ramai dan terkenal ya Gili Terwangan itu.
     Pagi hari berangkat dari pantai Senggigi dengan menggunakan perahu tempel, kami menyusuri pantai Lombok menuju utara. Cuaca sangat bersahabat, laut tenang, matahari bersinar cerah. Deretan pepohonan sepanjang pantai, lalu bangunan bangunan, villa, hotel dan obyek wisata merata disepanjang pantai. Ada satu tanjung yang indah, saya lupa namanya. Tapi disitu ada karang yang menonjol, berlubang dan banyak orang orang yang memancing.
     Perahu terus menuju ke utara agak kebarat. Samar telah terlihat, Gili Meno, Gili Air dan Gili Terawangan. Gili Terawangan ini yang paling luar atau paling jauh dari pantai Lombok. Kami mampir sejenak ke Gili Meno. Perahu tidak mendarat, hanya mematikan mesin ditepian pantai, pada jarak lk. 200 m dari pantai. Sayang sekali aku tidak bisa berenang. Yang bisa berenang, dengan dipandu oleh guide ber snorkeling, menyusuri laut yang penuh dengan terumbu karang, ikan ikan kecil dan kura kura. Aku hanya bisa meliaht keindahan alam bawah laut dari atas perahu. Itupun sudah sangat Indah. Ikan ikan kecil, karang beraneka warna dan bentuk, tentu yang bersnorkeling lebih asyik lagi.
     Setelah puas, kami semua kembali naik perahu dan melanjutkan perjalanan ke Gili Terawangan, yang letaknya hanya bersebelahan. Setelah perahu mendarat, kegiatan snorkeling kembali dilanjutkan. Kali ini disertai dengan atraksi memberi makan ikan. Jadi yang akan bersnorkeling membawa roti tawar untuk pakan ikan. Sambil berenang, roti tawar ditaburkan sedikit demi sedikit, maka ikan ikan kecil akan merubung dan mengikuti mereka yang bersnorkeling. Sampai kira kira 300 meter, mereka mendarat kepantai, istirahat dan mengulangi lagi dari awal. Demikian seterusnya sampai empat lima kali bolak balik sepuasnya. Lagi lagi aku hanya dipinggir pantai karena tidak bisa berenang.
     Puas bersnorkeling, kami lalu menyusuri pantai. Pasir putih, landai, indah, dibeberapa tempat dinaungi pepohonan. Banyak turis bule yang berjemur disini. Bahkan rasanya tidak berada dinegeri sendiri, namun berada diluar negeri, karena yang berjemur mayoritas adalah bule. Jangan  ada pikiran ngeres, karena ibaratnya adalah : bagi wanita, auratku adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan, sedang mereka auratnya hanya selebar telapak tangan.
     Jika lapar dan ingin makan, disini seperti ditempat wisata lainnya. Segala macam makanan, mulai yang lokal maupun waralaba internasional juga ada. Nampaknya sepanjang pantai sudah dikuasai oleh pendatang, setidaknya disewakan untuk usaha pariwisata. Sedang penduduk lokal tergeser lebih kedalam. Hotel, pub, cafe bertebaran seluruh pantai. Sedang bagi turis lokal, pilih saja hotel yang lebih kedalam.
     Namun sebenarnya Gili Terawangan ini tidak begitu luas. Acara bersepeda keliling pulau, juga gak nyampe 1 jam. Kita bisa menyewa sepeda ditempat persewaan sepeda. Bagian timur jalannya masih enak, karena terbuat dari paving blok. Namun dibagian barat dan utara agak berat karena harus melewati jalan berpasir.
     Menjelang sore, kami harus kembali ke Senggigi, karena kebetulan hotelnya di Senggigi. Sebenarnya ingin rasanya bermalam di Gili Terawangan, ingin merasakan suasana malam dipulau terpencil. Laut sore ini agak berombak sehingga perahu motor tempel yang kami tumpangi harus berjuang menembus ombak. tapi senang juga rasanya. Begitu mendarat di pantai Senggigi, rasanya puas hati ini, menikmati salah satu ikon pariwisata Lombok, Gili Terawangan.
So..kapan anda akan kesana?...dijamin puaslah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

melihat Bali dari sudut lain.......

     Bila kita berkunjung dan berwisata ke Bali, pasti tidak jauh jauh dari Pasar seni Sukowati, Garuda Wisnu Kencana, Tanah Lot, pantai Kuta dan obyek obyek wisata lain yang telah mendunia.  Kita mengikuti tur melalui biro perjalananpun, obyek yang kita kunjungi pasti ya itu itu saja. Pada akhir maret sd awal april 2012 yl, saya berkesempatan mengunjungi Bali tanpa melalui biro perjalanan, alias wisata sendirian. Sengaja memang saya ingin melihat Bali dari sudut yang lain, atau obyek obyek wisata yang jarang ditampilkan. Dan ternyata banyak sekali. Memnag benar ada ungkapan bahwa setiap jengkal tanah di Bali itu bisa disulap menjadi obyek wisata yang menarik untuk di kunjungi. Apa saja obyek wisata yang mungkin bisa anda kunjungi bila suatu saat nanti mengunjung Bali?.

Hutan mangrove Denpasar
     Kita tahu, bahwa hutan alam kita telah banyak yang rusak. Baik itu hutan hujan tropis, hutan cagar alam maupun hutan mangrove. Nah, Bali ini salah satunya yang berhasil mereboisasi hutan mangrove, walaupun dalam pelaksanaannya dibantu oleh dana dari JICA Jepang. Namun sangat baik untuk ditiru oleh daerah lain yang hutan mangrovenya telah rusak, abrasi pantainya parah dan untuk melestarikan alam, pantai, tempat berkembang biak udang, ikan dan hewan hewan lainnya.
     Hutan magrove Denpasar ini terletak di pinggir jalan by pass menuju Nusa Dua dan pelabuhan Benoa. Pantai seluas entah berapa ribu hektar telah berhasil dihutankan kembali dengan tanaman mangrove, pohon api api dan tanaman pantai lainnya. Suasananya sangat sejuk, dibagian bawah berupa rawa rawa air payau, tempat berkembang biak udang dan ikan lainnya. Sedang dibagian atas, pada dahan dahan pohon mangrove, bakau dan  api api, banyak dihuni oleh burung, monyet dan hewan lainnya. Suasananya betul betul seperti hutan dengan suara aneka burung dan satwa lainnya.
     Ditengah tengah hutan mangrove ini dibuat jalan yang melintas diatas air payau, terbuat dari kayu, membelah hutan, bercabang, melingkar sampai kepabuhan Benoa. Kita bisa berjalan melalui jalan setapak yang terbuat dari kayu ini, menikmati kesejukan hutan mangrove Denpasar. Jika ingin melihat lebih luas, tersedia gardu pandang berupa menara yang terbuat dari kayu, menjulang tinggi puluhan meter.
     Hutan mangrove berada dibawah pengelolaan kementerian kehutanan, namun pengelolaan sebagai obyek wisata berada dibawah Pemda Bali.

Persawahan terasering Jatiluwih
     Sawah dengan sistim terasering sesungguhnya banyak kita jumpai di daerah lain. Tetapi sawah berterasering dengan pengelolaan yang baik, luas (300 ha), lestari dan dikemas menjadi obyek wisata, salah satunya, ya sawah berterasering desa Jatiluwih ini.
    Sawah terasering ini terletak di desa Jatiluwih, kecamatan Penebel. Kabupaten Tabanan. Dikaki gunung Batukaru, jadi hawanya sejuk, pada ketinggian 1000 m dpl, lk 47 km dari Denpasar, kearah utara, melalui Tabanan, kecamatan Penebel dan desa Jatiluwih.
     Sawah dibuat mengikuti kontur tanah, dengan pematang yang memanjang sesuai ketinggian. Jadi kelihatan sangat indah, berundak undak luas sekali. Menghijau pada saat padi masih muda dan menguning pada saat padi tua. Pemandangan akan lebih lengkap dengan beberapa petani yang sedang bekerja. Kadang juga diselingi beberapa kandang kerbau ditengah sawah.
    Tak hanya persawahan yang indah, desa Jatiluwih juga masih menjaga tatanan adat dan kehidupan masyarakat  pedesaan, sehingga desa ini pernah dinominasikan sebagai desa warisan dunia / world heritage site. 
    Oleh karena sudah menjadi obyek wisata, maka juga ada  fasilitas pendukung berupa rumah makan, rest area dan areal pandang. oleh oleh khas desa Jatiliwih adalah beras merah yang telah dikemas dalam wadah 1 kg. Kita juga bisa menikmati teh beras merah, diminum panas panas pada udara yang sejuk, nikmat sekali. 

Desa adat Penglipuran
     Desa ini sangat tenang jauh dari hiruk pikuk kramaian obyek wisata. Berjarak 45 km dari Denpasar, termasuk dalam wilayah kab. Bangli.
     Memasuki desa ini, kendaraan diparkir diluar desa, lalu kita berjalan kaki memasuki areal desa. Jalan ditengah desa ini terbuat dari semen selebar 2 m dan kiri kanan jalan semen tersebut ada hamparan rumput yang menghijau, ditata sangat rapi. 
     Keindahan desa ini juga karena semua bangunan mengandalkan bahan yang terbuat datri bambu. Rumah, dinding, atap dan bagian rumah yang penting terbuat dari bambu. Cendera mata khas desa ini juga terbuat dari bambu. Bahkan diluar desa, ada hutan bambu seluas 20 ha, yang menjadi cadangan bahan baku rumah dan produk kerajinan khas desa ini.

Masih banyak obyek wisata di Bali yang "lain daripada yang lain". Lain dari pada yang selama ini kita kunjungi. Anda bisa melihat antara lain :
1. Desa Baha.
2. Bali bird park
3. Kebun Raya Eka Karya Bali (Bali Botanic Garden)
Dan masih banyak lagi obyek obyek wisata yang mungkin tidak pernah kita lirik pada waktu mengunjungi Bali. So, marilah kita melihat Bali dari sudut pandang yang lain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS