Naik bus umum/ bus bumel??.....melatih kesabaran!!

    Pemerintah dinilai gagal menyediakan angkutan umum/ angkutan masal yang nyaman bagi rakyatnya. Akibatnya rakyat, masyarakat akan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Akibat lebih lanjut terjadi kemacetan dijalanan karena panjang jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus meningkat. A kibat lebih lanjut juga, konsumsi BBM meningkat pesat sehingga pemerintahpun kelabakan untuk mengatasinya.
     Selain kegagalan Pemerintah dalam menyediakan dan mengatur angkutan umum, ini juga diperparah dengan tingkah laku pengelola kendaraan umum dan tingkah laku para awak kendaraan tersebut, yang memang membuat penumpang tidak nyaman. Banyak penumpang yang akhirnya kapok naik kendaraan umum. Kalau toh naik juga, itu karena terpaksa tidak ada pilihan lainnya.
      Saya adalah pengguna setia kendaraan umum. Bepergian kekota yang dekat seperti dari Magelang ke Jogja atau Semarang, saya lebih suka menggunakan kendaraan umum, yakni bus umum atau bus bumel. Jarang sekali menggunakan bus patas. Tapi, kita harus siap mental dan siap kesabaran penuh manakala kita menggunakan bus umum. Sebagai gambaran saja, suatu saat saya naik bis umum dari Semarang pulang ke Magelang. Dari terminal terboyo, bus berjalan pelan pelan sambil nyari penumpang. Begitu masuk tol, ngebutnya menakutkan. Lalu berhenti di kawasan Sukun. Disini ngetem cukup lama, bahkan lama sekali, menunggu penumpang dari arah kota. Setelah ada berita bus berikutnya sudah dekat, baru bus mulai berangkat. Total dari terminal Terboyo sampai berangkat dari Sukun, perlu waktu hampir empat puluh menit. Lalu bus berangkat dengan kecepatan sedang, sambil menaikkan penumpang disepanjang jalan. Berhenti lagi di terminal Bawen. Dari Sukun ke Bawen dibutuhkan waktu lima puluh menit. Lha, di Bawen ini bus ngetem lama sekali, hampir tiga puluh menit. Kemudian baru berangkat lagi menuju Magelang yang memakan waktu satu jam. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk jarak Semarang - Magelang yang hanya 76 km, lebih dari tiga jam. Dan Semarang - Jogja memerlukan waktu empat setengah jam. Termasuk ngetem, masuk terminal dsb.
     Ini juga diperparah dengan hadirnya pengamen yang setiap saat bisa masuk bus, baik dari terminal, halte, lampu merah dan tempat naik turun penjumpang lainnya. Jarak Semarang - Magelang, bisa jadi ada sepuluh pengamen yang naik turun. Demikian juga pedagang asongan yang jumlahnya sangat banyak yang bisa naik turun setiap saat. Semua ini jelas membuat perjalanan menjadi sangat tidak nyaman.
     Pengelola bus juga tidak bisa merawat  busnya. Mulai dari kebersihan, tempat duduk yang sudah rusak, bus yang tidak nyaman, bau tempat duduk dan ruangan dalam bus, maka lengkaplah ketidak nyamanan menggunakan angkutan umum. Kita menjadi rugi waktu, rugi kenyamanan, hati menjadi geram, badan cepat lelah dan seabreg keluhan lainnya bila mengggunakan angkutan umum.
     Untuk itu saya menyarankan, bila anda akan naik angkutan umum, siap siaplah untuk rugi waktu, siapkan uang receh bagi para pengamen dan yang penting menata hati dan perasaan agar tidsak menjadi jengkel.
     Mestinya juga pemerintah perlu segera membuat aturan agar bus umum dan angkutan umum lainnya menjadi lebih nyaman dan menarik minat para penumpang. Orang bepergian akan lebih memilih menggunakan angkutan umum ketimbang angkutan pribadi. Jalanan akan sedikit dibebaskan dari kemacetan dan komsumsi BBM bisa ditekan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

burung dalam sangkar, jalan lurus menuju akhir hidupnya.....

     wahai kau burung dalam sangkar....dapatkah kau menahan siksa....dari kekejaman dunia...yang tak tahu menimbang rasa......../ biar sangkarku terbuat dari emas...lebih baik kuhidup di hutan luas....ini dua penggal lagu tempo dulu, yang satu dari D'lloyd dan penggal kedua dari Panbers, menggambarkan bagai mana kehidupan burung yang ada di dalam sangkar. Walaupun mungkin mendapat makan yang sangat enak, terjamin, walau mungkin sangakrnya terbuat dari emas, ukiran indah, namun bagaimanapun juga habitat burung adalah dialam bebas.
     Burung itu kalau sudah berada didalam sangkar buatan manusia, artinya burung itu sudah berada dijalan lurus menuju akhir hayatnya. Coba mari kita hitung, berapa lama burung itu dapat bertahan?. Sebulan,  dua bulan, setahun, dua tahun, atau berapa lama, pasti akan mati, tanpa meninggalkan keturunan atau anak, sebagai penerus spesiesnya. Lama lama spesies burung itu akan lenyap dimuka bumi.

Bagian dari ekosistem
     Di alam bebas, burung adalah bagian dari ekosistem. Tuhan telah menciptakan alam ini dengan berbagai isinya, masing masing mempunyai fungsi dan berjalan sangat seimbang. Burung, ada yang berfungsi sebagai penyerbuk bunga, yang akhirnya buahnyapun untuk kepentingan manusia. Ada yang berfungsi sebagai pemakan hama tanaman, atau pembersih alam dari bangkai hewan liar, dsb. Apabila keseimbangan itu terganggu, misalnya banyak burung dialam liar ditangkapi untuk kesenangan manusia, terganggu pula rantai kehidupan. Misalnya terjadi ledakan populasi hama karena tidak ada pemangsa alaminya. Atau produksi buah buahan menurun karena tidak ada penyerbukan. Masih banyak contoh bagaimana bila keseimbangan alam terganggu.
     Memang ada juga burung yang menjadi musuh manusia karena perannya sebagai hama. Misalnya burung pipit menjadi hama bagi tanaman padi. Burung bangau menjadi hama pagi petambak udang dan ikan. Namun semua itu sebenarnya bagian dari ekosistem yang akan saling terkait.
     Penangkapan burung liar, akan menyebabkan ekosistem terganggu. Salah satu rantai kehidupan terganggu, yang akibatnya bergeserlah keseimbangan alam. Lebih lebih penangkapan burung liar juga diikuti dengan penangkapan pakan alami burung tersebut. Sebut saja larva semut rang rang yang banyak diburu orang, karena larva semut rang rang ini adalah pakan alami dari beberapa jenis burung ocehan. Padahal semut rang rang adalah predator alami dari beberapa jenis hama perusak tanaman seperti wereng, walang sangit, dsb.

Solusi : Penangkaran
     Bagaimanapun juga, manusia sangat senang dengan suaran burung yang merdu  atau warna bulunya yang sangat indah. Pepatah Jawa mengatakan bahwa manusia itu sangan senang kepada Wanito, Turonggo dan Kukilo. Kukilo atau burung digemari karena suaranya, warnanya dan kalau mempunyai burung yang bagus dapat meningkatkan status sosial. Tapi kalau burung burung dialam ditangkapi, lama lama populasi burung tersebut akan menurun dan lama lama punah.
     Perlu diingat sekali lagi, bahwa jika burung liar itu sudah berada di dalam sangkar, artinya, burung tersebut sudah punah, karena tinggal menunggu kematian tanpa bisa melanjutkan garis keturunannya. Tanpa bisa melestarikan spesiesnya.
     Itulah maka penangkaran menjadi solusi mendesak untuk memenuhi hasrat manusia yang suka mendengarkan ocehan burung, memeliharan burung sehingga tidak hanya menangkap burung dari alam liar yang berakibat terganggunya keseimbangan alam.
     Dewasa ini sudah banyak usaha penangkaran yang  berhasil menangkarkan burung burung liar. Mulai dari jalak Bali, jalak penyu, cucak rowo,kenari, love bird dsb. Hasil dari penangkaran tersebut untuk dipasarkan memenuhi permintaan para penggemar burung,  dan bila yang menangkarkan lembaga tertentu, sebagian dilepas kealam liar untuk meningkatkan populasi dialam.
     Pendek kata, kita harus pastikan bahwa burung yang kita pelihara adalah burung hasil penangkaran, bukan hasil penangkapan dari alam liar. Dan kita biarkan burung burung liar terbang bebas dialam, menjaga keseimbangan alam demi kenyamanan kehidupan.

Alam sebagai sangkar raksasa
      Bagaimana bila alam ini diisi oleh burung burung yang terbang bebas, hinggap di pepohonan disekitar kita, berkicau dengan merdu, mencari makan dari apa yang sudah tersedia di alam?. Pagi hari bila kita membuka jendela, kita akan bisa melihat warna warni burung yang elok rupanya, kita bisa mendengar kicauannya yang merdu. Tanpa kita mempunyai keinginan untuk memiliki, tanpa kita mempunyai keinginan untuk menangkap untuk kita nikmati sendiri keindahannya, merdunya?.
     Mari kita jadikan alam sekitar kita sebagai sangkar burung raksasa, yang akan dapat menampung segala jenis burung, dengan beraneka warna keindahannya, aneka corak suaranya, dan sumber pakan alami yang tersedia sepanjang waktu tanpa diganggu.
     Mungkin kita tidak perlu repot repot tiap pagi harus memberi pakan  burung dan tidak perlu repot tiap hari harus membersihkan kotorannya. Suara burung burung yang merdu telah tersedia sepanjang waktu dialam sekitar kita.

Solusi lain: entaskan kemiskinan
     Bagaimanapun perlu diakui, bahwa para pemburu burung, para pencari kroto/larva semut rang rang itu adalah kaum miskin. Mereka tidak punya pekerjaan. Mereka menangkap burung, mencari larva, hanya untuk sekedar mendapatkan rupiah guna menyambung hidupnya. Mereka tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa pekerjaannya itu berakibat terganggunya ekosistem. Kalau sudah urusan perut, semua pertimbangan akan dilanggar juga.
     Maka mestinya dicarikan solusi untuk membuka lapangan kerja bagi mereka, agar mereka mau meninggalkan pekerjaannya yang bersifat merusak alam itu, pindah ke pekerjaan yang lebih membangun. Antara lain ya itu tadi, menjadi penangkar burung.

Pesan moral
     Ada hadist Rasulullah yang menyebutkan, bahwa seorang wanita ahli ibadahpun diancam masuk neraka bila menelantarkan binatang piaraannya. Diceritakan, seorang wanita yang asyik masyuk beribadah, berdoa, berdzikir sampai sampai melupakan kucing peliharaannya. Lalu saking laparnya, si kucing tersebut terpaksa makan remah remah di tanah. Terhadap perilaku wanita ahli ibadah tersebut, Allah mengancam akan memasukkan kedalam neraka. Bila kita qiyaskan, seorang yang memelihara burung dalam sangkar, lalu ditelantarkan, tidak diberi makan dan minum yang cukup, bisa bisa orang terserbut akan masuk neraka.
     Hadist lain menyebutkan, bahwa seseoranmg yang menanam buah buahan, lalu buahnya itu dimakan burung liar, dan ia mengikhlaskannya, maka tidak lain baginya pahala bagai orang bersedekah. Jadi buah buahan yang kita tanam dikebun, lalu dimakan burung dan kita mengikhlaskannya, adalah pahala sedekah bagi kita 
    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kuliner Magelang : Sego godhog & Mie Magelangan....

     Dimana mana, yang namanya warung bakmi itu rasanya sama. Baik warung yang ada diemperan toko, kaki lima trotoar diwaktu malam sampai yang berupa rumah makan, yang namanya bak mi ya kayak gitu rasanya. Namun seiring berjalannya sang waktu, sering dengan pengembaraan lidah keberbagai wisata kuliner, akhirnya kita akan tahu kekhasan masakan suatu daerah. Sama sama berlabel bakmi jowo, namun yang di Jogja lain rasanya dengan yang di Solo, lain lagi yang di Magelang.
     Di malam hari, sesudah toko toko pada tutup, banyak trotoar yang beralih fungsi sebagai tempat wisata kuliner. Dengan penataan yang apik, maka pusat jajanan itu akan menarik para pemburu kuliner. Salah satu masakan yang selalu hadir diberbagai tempat wisata kuliner adalah bakmi. Bakmi yang berbahan baku terigu, telah menjadi makanan pokok kedua sesudah nasi. Apalagi penjual bakmi mesti melengkapinya dengan nasi. Jadi banyak pilihan, ada bakmi godhog, bakmi goreng, nasi goreng dan nasi godhog.
     Masakan bakmi selera jawa, entah apapun namanya, berbeda dengan bakmi rasa oriental/ masakan cina. Bakmi jawa, biasanya berbahan pokok bakmi, mihun dan nasi. Kemudian kuahnya dari rebusan ayam kampung, yang biasanya dipilih ayam tua, jago atau babon. Direbus agak lama, biar empuk dan kuahnya mengeluarkan aroma khas. Daging ayam kampung ini nanti juga sebagai bahan baku membuat masakan bakmi godhog, goreng, nasi godhog dan nasi goreng. Sayur sebagai pelengkap terdiri dari daun bawang, sledri, kobis dan caisim. Bumbu utama adalah merica, bawang putih, penambah rasa berupa ebi(udang kering) dan miri. Bumbu digongso, setelah tercium aroma sedap, baru sayur dimasukkan, lalu daging ayam dan bahan utama, bakmi, mihun atau nasi. Tentu saja penguat rasa monosodium glutamat tidak ketinggalan. Kombinasi, cara meramu, banyak sedikitnya bahan, itu yang akan menentukan kekhasan rasa dan merupakan trade mark warung bakmi masing masing.

Sego godhog
     Ini saya temui pertama kali di Magelang. Sekarang mungkin sudah meluas ke berbagai tempat dengan cara penyajian dan kekhasan masing masing daerah. Mungkin logikanya, ada bakmi godhog, ada bakmi goreng. Ada nasi goreng, mestinya juga ada nasi godhog.
     Cara memasak sego godhog ini persis sama dengan memasak bakmi godhog, hanya bakminya diganti dengan nasi. Panas, pedas, berkuah, lengkap dengan sayuran, ayam kampung dan bisa ditambah telur. Ini mungkin untuk melayani pelanggan yang nasi minded. Belum rasa makan kalau belum makan nasi. Jadi makan nasi godhog itu seperti nakan nasi sop, hanya sayur, isi lainnya dan nasi dimasak bersama sama.

Bakmi Magelangan
      Istilah bakmi Magelangan ini justru tidak dikenal di kota Magelang. Baru kalau kita masuk ke warung bakmi di Jogja dan sekitarnya, kita bisa memilih menu bakmi magelangan. Jadi pada daftar menu akan tertulis bakmi goreng, bakmi godhog, nasi goreng, nasi godhog dan bakmi magelangan. Lho, kayak apa sih bakmi magelangan?. Orang Magelang yang baru pertama kali melihat daftar menu inipun pasti penasaran ingin mencoba.
      Bakmi Magelangan ini sama dengan bakmi godhog biasa, hanya bakminya terdiri dari bakmi kuning dan mihun. Bumbu, sayur, daging ayam, semua sama. Yang paling membedakan ialah kuah yang sangat sedikit, atau kalau orang jawa menyebutnya nyemek nyemek. Jadi mungkin tengah tengah antara bakmi goreng dan bakmi godhog.
     Jadi bakmi magelangan itu hanya ada di Jogja dan sekitarnya serta daerah lain. di Magelang sendiri tidak ada. Lha kalau sedang berada di Magelang, ingin makan bakmi magelangan gimana caranya?. Pesan aja bakmi "nyemek nyemek", nanti akan dilayani hidangan kayak bakmi magelangan

So what?....Mari mencicipi sego godhog atau bakmi magelangan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

merokok mati, tidak merokok juga mati.....MEROKOKLAH SAMPAI MATI!!!!...

    Tanggal 31 Mei diperingati sebagai hari tanpa tembakau sedunia. Masyarakat diajak untuk sadar akan bahaya merokok. Bahwa merokok membahayakan kesehatan, mengisap bahan bahan beracun yang bisa menyebabkan kanker, faktor resiko terhadap beberapa penyakit dan menyebabkan ketergantungan. Disamping itu, bila sudah terkena penyakit akibat rokok, maka biaya kesehatan untuk pemulihan akan sangat tinggi. Juga akan sangat merugikan perokok pasif, yakni orang orang yang berada disekitar para perokok, yang mau tidak mau akan ikut mengisap asap yang dikeluarkan oleh perokok. Bahkan waktu masih dalam penanaman, pertanian tembakau dituding sebagai pertanian yang tidak ramah lingkungan dan cenderung merusak lingkungan hidup.
    Namun bagi para perokok pasti punya dalih sendiri untuk tetap merokok. Merokok adalah hak dan kebebasan pribadi, kalau tidak merokok mulut akan kecut, tidak bisa beripikir dan masih banyak alasan lainnya. Disadari pula bahwa rokok telah menjadi industri besar dari hulu sampai hilir yang melibatkan jutaan penduduk Indonesia. Mulai dari pertanian tembakau yang menampung sekian juta petani tembakau termasuk anggota keluarganya, kemudian waktu panen, merajang, menjemur sampai siap jual, berapa tenaga kerja tertampung. Lalu waktu ditampung pabrik rokok juga menjadi lahan penampungna tenaga kerja. Sesudah masuk pabrik rokok, berapa ratus ribu angkatan kerja tertampung.Kemudian pemasaran rokok juga merupakan rantai panjang yang menghidupi sekian juta orang. Kesmua itu menghasilkan cukai tembakau bagi negara yang njumlahnya triliunan rupiah.
    Pro kontra tembakau ini akan berlanjut terus dengan berbagai dalih, alasan pembenar dan bahkan sudah masuk ranah politik. Pemerintah akan segera menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang tembakau, dimana akan dicantumkan bahwa tembakau, rokok dan bahan turunannya merupakan zat adiktif yang bisa menimbulkan ketergantungan. Sebaliknya yang pro tembakau mati matian menentang rencana pemerintah tsb karena akan berdampak luas kepada petani tembakau, pabrik rokok dsb.
     Terlepas dari pro kontra, apakah tembakau bersifat adiktif, apa merugikan kesehatan, berapa cukai yang dipungut negara, berapa angkatan kerja tertampung, saya hanya ingin menyoroti dari dua hal sebagai penengah :

Pertanian tembakau
     Pertanian tembakau banyak yang dilakukan didaerah pegunungan, terutama di Temanggung, lereng gunung Sindoro dan Sumbing serta Prahu. Sifat dari tanaman tembakau ialah membutuhkan sinar matahari penuh. Sehingga tanaman pelindung, pohon pohon penghijauan dibabat demi menaman tembakau dan menghasilkan tembakau yang bermutu. Maka terjadilah penggundulan lahan dan apabila tanaman tembahkau sudah dipanen, lahan menjadi terbuka, erosi dan pengurusan tanah meningkat, kwalitas lingkungan hidup merosot.
    Bagaimanapun juga, tembakau adalah sumber kehidupan bagi petani tembakau. Agar pertanian tembakau bisa sejalan dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup, maka pertanian tembakau perlu diatur sbb :
  1. menanam tembakau hanya diijinkan dilahan dengan kemiringan kurang dari 40%. Lahan dengan kemiringan diatas 40% dilarang ditanami tembakau dan dilestarikan dengan tanaman keras untuk menjaga lingkungan.
  2. Lahan diatas ketinggian 2000 m dpl, dilarang ditanami tembakau.
  3. Lahan yang merupakan kawasan lindung, kawasan lindung diluar kawasan hutan, daerah tangkapan air, dilarang untuk ditanami tembakau dan dilestarikan denmgan ditanami pepohonan
  4. Tatacara menanam tembakau harus mengikuti kaidah pelestarian lingkungan, mengukuti kontur tanah pegunungan. Selesai panen tembakau, lahan harus dikembalikan tutupannya untuk menghindari erosi.
Perilaku perokok
     Para perokok hendaknya sadar bahwa merokok menimbulkan gangguan kepada lingkungan dan orang disekelilingnya. Kebiasan merokok ditempat umum, dalam angkutan umum, dalam ruang publik dsb, hendaknya dibuang. Silahkan merokok, karena itu memang menjadi hak anda, tapi jangan sampai mengganggu orang lain. Pemerintah perlu menentukan kawasan kawasan smoking area di gedung gedung pemeerintah, fasilitas umum dan pihak swasta pengelola tempat umum, mal, swalayan dsb juga harus menyediakan smoking area. Diluar smoking area, masyarakat perlu disadarkan untuk tidak merokok. Kalau perlu dengan tindakan penertiban.
    Saya ingat akan suatu tulisan di koran, seorang mahasiswa asing yang sedang tugas belajar di Indonesia. Waktu mahasiswa tsb naik kendaraan umum, didalam kendaraan tsb banyak sekali orang orang yang sedang merokok sehingga dalam kendaraan jadi pengap. Penumpang lain tidak ada yang berani protes. Lalu mahasiswa itu menulis, "Apakah bangsa Indonesia tidak diajari sopan santun bahwa merokok ditempat umum, dikendaraan umum, diruang publik itu adalah suatu ketidak sopanan?".   
    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nasi liwet, nasi uduk, nasi gurih...apa sih bedanya?

     Nasi liwet, nasi uduk, nasi gurih, telah menjadi masakan nusantara yang penyebarannya merata mulai dari barat sampai ketimur. Di Sumatera,  Jawa Barat, Betawi, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali,  dan masih banyak lagi daerah daerah yang mengklaim bahwa nasi ini adalah masakan khas daerahnya.
     Sebenarnya cara pembuatan nasi ini sama saja. Beras sesudah dicuci bersih, lalu dimasak dengan menggunakan air santan, garam dan daun salam. banyak sedikitnya garam dan kekentalan santan, tergantung selera dan kekhasan daerah masing masing. Sesudah selesai dikaru, didiamkan sebentar biara agak tuntas airnya, lalu dimasak dengan cara di "adang", atau dimasak dengan cara diuapi/dikukus. Bisa dengan menggunakan dandang atau dengan kukusan kalau cara masaknya masih tradisional. Pemasakan ini agak lama biar nasinya nanti awet tidak cepat basi. Jadi sebenarnya nasi liwet itu tidak diliwet, tapi tetap juga diadang/ dikukus.
     Nah, untuk lauknya, inilah yang membedakan tiap tiap daerah. Ini pula yang membedakan antara nasi uduk, nasi gurih dan nasi liwet. Untuk tiap tiap daerah, berbeda cara penyajian, lauk sebagai pelengkap yang pada akhirnya akan berbeda pula cita rasanya.
     Nasi liwet Solo yang sudah terkenal, baik ditingkat kaki lima, mbok gendong di terminal maupun dikelas rumah makan, mempunyai kekhasan tersendiri. Biasanya disajikan dalam sebuah pincuk. Atau kalau diatas piring, ya dialasi daun pisang. Nasi liwet disajikan dengan lauk ayam kampung, sambal goreng jipang, telur ayam pindang dan areh. Ayam kampung bisa memilih dada, paha, kepala, rempelo ati atau hanya suwiran daging. Areh itu dulunya terbuat dari santan yang dikentalkan sehingga berasa gurih dan asin. Sekarang dengan pertimbangan praktis, areh terbuat dari santan ditambah putih telur yang diaduk merata sehingga seperti santan kental. Bahkan kadang ada yang menambahi dengan tahu putih. Kemudian sebagai pelengkap juga ditambahi krupuk rambak.
     Nasi uduk tempo dulu sebenarnya hampir mirip, yakni dengan lauk opor ayam kampung yang dibuat agak kental sehingga kuahnya mirip areh. Lalu juga ada sambel goreng jipang, telur pindang dan yang agak berbeda adalah adanya taburan kedelai hitam goreng.
     Yang  mungkin agak berbeda adalah nasi gurih Jawa Barat dan Betawi. Waktu menanak nasi hingga menjadi aron, selain daun salam dan garan juga ditambahkan sere, cengkeh dan kayu manis. Disini lauk yang disajikan sebagai pendamping adalah sambal ikan teri, oseng daun pepaya dan peyek. Juga ditambah lauk lain yang lebih beraneka ragam. Nasi uduk ala betawi misalnya ditambah lauk empal daging, paru dan ditaburi bawang goreng.
     Di Malaysia, negeri jiran kita, ada nasi lemak yang juga hampir sama dengan nasi gurih kita. Bedanya waktu memasak ditambah beberapa macam rempah sehingga rasa dan aroma rempah agak dominan. Cuma lauknya yang mungkin agak berbeda.
     Berhubung nasi liwet, nasi uduk, nasi gurih diklaim oleh banyak daerah sebagai hidangan khas daerah masing masing, tentu masih banyak variasi dan cara penyajian yang berbeda. Nah, bagaimana dengan daerah anda........

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS