Sayur lodeh, semua orang Jawa pasti tahu....

     Ya, semua orang Jawa pasti tahu sayur yang satu ini. Sayur yang diklaim sayur yang njawani, sayur yang bernuansa Jawa, walaupun mungkin didaerah lain ada sayur yang mirip ini, walau dengan nama yang berbeda. Namun karena perkembangan jaman, demi kepraktisan, terutama diperkotaan, sayur ini sudah mulai dilupakan oleh generasi muda. Terutama anak anak yang kedua ortunya bekerja, gak sempat memasak sendiri, demi kepraktisan, sepulang kantor si ibu mampir ke francois, waralaba atau warung padang....maka yang dikenal anak anak ya semacam KFC, burger, ayam goreng, yang agak tradisional yang masakan padang.
     Lalu kalau suatu saat si anak diajak makan dirumah makan Jawa, atau pulang kerumah mbahnya, maka sayur lodeh ini kurang familiar dilidah anak anak. Lha, ada baiknya sekarang ibu ibu muda sesekali masak sendiri dirumah dengan resep resep masakan tradisional, agar sianak tidak lupa kacang pada kulitnya, tidak lupa pada masakan leluhurnya, berganti dengan masakan londo....... Lalu apa masakan sayur lodeh itu dan bagaimana cara masaknya? Ini ada satu contoh aja, soalnya variasinya sangat banyak.

bahan
bahan untuk membuat sayur lodeh adalah:
- aneka sayuran : kacang panjang
                             daun melinjo
                              labu siam/ jipang
                             terong
                             kalau senang bisa diberi biji bijian semisal kacang tholo
- bumbu              : ketumbar
                              bawang merah
                             bawang putih
                             kemiri
                             kalau senang, trtm dipedesaan ditambah: tempe semangit
                             (semua bumbu ini diuleg sampai halus)
- tambahkan       : santan(kental maupun encer)
                             garam
                             bumbu masak/ vetsin, masako dsb
                             daun salam
                             lengkuas

cara memasak
- masak air untuk kuah secukupnya, masukkan daun salam dan lengkuas, biarkan sampai  mendidih
- jika senang memakai biji bijian, kacang tholo dsb, maka ini dimasak duluan sampai empuk
- sesudah kacang tholo empuk, masukkan bahan bahan sayuran, masak terus sampai empuk
- sesudah semua sayuran empuk, masukkan bumbunya
- terakhir masukkan santan, garan, vetsin dsb
lauk pendamping 
sayur lodeh ini sangat cocok apabila didampingi dengan lauk pendamping :
- tempe/ tahu goreng
- ikan asin goreng
- kerupuk, peyek dsb
- sambel lombok goreng semisal sambel bajak dsb

tidak ada standardisasi
ya, memang sayur lodeh ini gak ada standardisasinya. Jadi tiap daerah berbeda rasanya. Berbeda bahan bakunya/sayurnya, tambahan bumbunya. Namun yang saya sebutkan diatas adalah standar umum yang ada dipedasaan. Tinggal anda mau improvisasi, silahkan. Bahan sayur bisa diganti dengan sayur lain, seperti nangka muda, jantung pisang kepok dsb. Bumbu juga bisa ditambah seperti ebi dsb.
Gak usah standardisasi, yang penting enak dan njawani, sehingga anak anak kita tidak lupa dengan masakan leluhur. Jangan sampai yang dikenal malah cuma KFC, Mc donald, tempura, sukiyaki, dan seabreg serbuan waralaba mancanegara.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Membangun ketahanan Pangan....kok jalan ditempat?

     Suatu daerah yang surplus produksi pangan, belum tentu tidak rawan pangan. Lho kok gitu!!!. Surplus pangan itu diartikan bahwa produksi pangan didaerah tsb (sayangnya yang dihitung hanya produksi pada dan jagung, sedang sumber karbohidrat lain enggak), dibagi dengan kebutuhan pangan jumlah penduduknya, masih positif. Suatu daerah yang subur, irigasi baik, hasil sawah melimpah, sementara jumlah penduduknya sedikit, dikatakan bahwa daerah tsb surplus pangan.
     Tapi belum tentu tidak rawan pangan. Lha kalau ternyata sawah sawahnya dimiliki orang kota, dan orang desa hanya sebagai buruh tani? Daerah yang surplus pangan namun penduduknya miskin, daya beli rendah dan akses kepada kesehatan rendah, maka daerah itu digolongkan sebagai daerah rawan pangan. Contohnya saja daearh yang terkenal sbg lumbung padinya pulau jawa, ternyata malah merupakan kantong kemiskinan!. Ya itu tadi, sawah sawah yang menguasai orang kota dan penduduknya hanya sebagai buruh tani. Mereka hanya mendapat upah pada saat menggarap sawah, panen padi dsb.
     Sebaliknya suatu daerah yang hampir tidak ada sawahnya, produksi pangan rendah, namun penduduknya kaya dari usaha sektor lain, daya beli tinggi dan  mereka mampu mendatangkan pangan dari luar. Maka dikatakan daerah tsb tidak rawan pangan. Namun mestinya darah semacam ini tidak mempunyai kedaulatan pangan, dan selalu tergantung dari daerah lain.
     Jadi ketahanan pangan sangat ditentukan olah banyak indikator. Dari indikator katahanan pangan, mestinya dapat dibuat suatu konsep, peta rawan pangan dan prioritas penanganan kedepan. Jadi ya jangan pembangunan ketahanan pangan itu seragam disemua daerah, wong masalahnya beda beda. Kalau satu daerah membangun aneka ragam pangan, ya semua ikut ikutan. Suatu daerah membangun tanaman pangan dipekarangan, semua ikut ikutan. Pernah aku lihat, suatu daerah perdesaan yang tanahnya masih sangat luas, eee.....lha kok mengembangkan tanaman sayur dalam polibag. Mbok ya langsung ditanah kan masih ada tempat. Ada juga suatu perkotaan yang menyebarkan bibit kelinci, katanya untuk program ketahanan pangan. Lha baru beberapa bulan, alhamdulillah sudah mati semua.
      Jadi marilah kita siapkan konsep pembangunan ketahanan pangan sesuai masalah didaerah, dipetakan, lalu dibuat langkah jalan keluarnya gimana.
  1.  Ketersediaan pangan
  2. Akses masyarakat terhadap pangan
  3. pemanfaatan dan penyerapan pangan
  4. kerentanan pangan
  5. kedaulatan pangan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tetsuko Kuroyanagi : TOTO CHAN’S CHILDREN, A GOODWILL JOURNEY TO THE CHILDREN OF THE WORLD



      
    Perjalanan kemanusiaan untuk anak anak sedunia. Buku ini sudah cukup lama, ceritanyapun juga lama, namun cukup asyik danmengharukan untuk dibaca. Tetsuko kuroyanagi adalah orang jepang yang menjadi duta kemanusiaan dari UNICEF, mengadakan perjalanan untuk mengadvokadsi perlindungan hak anak anak, membantu mereka memenuhi kebutuhaqn adasarnya, dan memperluas kesempatan anak anak untuk memaksimalkan potensinya. Perjalanan untuk melihat kondisi anak anak didaerak konflik, peperangan, bencana alam serta dinegara negara yang tertinggal. Antara lain Tanzania(1984), Nigeria (1985), India(1986), Mozombik(1987), Kamboja(1988), Angola (1989), Bangladesh(1990) Irak(1991), Ethiopia(1992), Sudan(1993), Rwanda(1994) Haiti(1995) dan Boznia Herzegovina(1996).
       Perjalanan yang sangat menyentuh perasaan tentang nasib anaka anak didaerah konflik, peperangan yang lalu menimbulkan pengungsian, bencana kelaparan, kekeringan, wabah penyakit dlsb. Dan ternyata memang setiap ada konflik, peperangan, maka yang peertama menjadi korban adalah anak anak dan perempuan. Mereka tak tahu kenapa harus terusir jadi pengungsi, orang tua yang bertikai, kenapa mereka yang jadi korban? Mereka hanya ingin hidup damai dalam suasana yang tenang dikampungnya sendiri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ikan dan hewan, indikator perubahan lingkungan

     Kita masih ingat sejarah lingkungan, kasus Minamata disease di Jepang. Teluk Minamata yang sangat tercemar merkuri dan logam berat lainnya dari pembuangan limbah industri. Lalu cemaran industri ini menempel di tumbuhan dan biota laut. Tumbuhan dan biota laut ini lalu dimakan ikan ikan kecil. Ikan kecil dimakan ikan besar, dan terjadi akumulasi merkuri pada ikan besar. Ikan besar lalu tertangkap nelayan, lalu dikonsumsi manusia. Lama lama terjadi akumulasi merkuri dan logam berat lainnya pada tubuh manusia. Manusia bisa keracunan yang berakibat kerusakan organ tubuh dlsb, dan yang fatal, ternyata berakibat pada janin yang dikandung. Maka lahirlah bayi bayi yang cacat. Inilah yang terkenal dengan kasus Minamata yang menghebohkan itu. Kasus ini menyadarkan manusia akan akibat dari pencemaran lingkungan.
     Alam terkembang menjadi guru. Sebenarnya kalau kita cermati kehidupan ikan, kodok, hewan hewan dan biota lainnya, kita akan dapat melihat perubahan lingkungan, pencemaran, tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Hewan hewan yang dalam siklus hidupnya mengalami metamorfosis, seperti kodok, akan sangat terikat pada habitatnya dan sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Tiap tiap fase metamorfosis akan sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dijadikan indikator perubahan lingkungan. Kodok yang tidak tahan terhadap perubahan lingkungan, akan mati pada fase telur sampai berudu. Kodok yang agak tahan, akan mengalami pertumbuhan yang tidak normal/cacat. Kecacatan ini akan berpengaruh pada organ reprudksi, kesuburan dan akhirnya berpengaruh pada kegagalan reproduksi/ kegagalan berkembang biak.  Ini yang menyebabkan populasi kodok menyusut bahkan ada beberapa jenis yang punah.

Indikator perubahan lingkungan
     Ahli ekologi akan selalu memperhatikan perubahan perilaku hewan, ikan dan biota lainnya untuk mengetahui perubahan lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran dan kerusakan lingkungan. Burung burung sejenis bangau akan bermigrasi ribuan mil jauhnya untuk mencari suhu yang lebih ideal bagi perkembang biakannya. Koloni ikan laut akan bermigrasi kelaut yang lebih hangat untuk berkembang biak. Namun perubahan iklim, perubahan suhu, ternyata telah merobah pola migrasi hewan hewan ini.
     Pencemaran air juga berpengaruh pada budidaya perikanan. Pencemaran limbah, bahan beracun dan berbahaya, rendahnya o2 terlarut, berpengaruh langsung pada ikan. Mulai dari lambatnya pertumbuhan, gangguan reproduksi sampai pada kematian masal. Kehidupan ikan bisa menjadi indikator kwalitas air dan tingkat pencemarannya. Namun ini kadang diterapkan secara salah oleh perusahaan yang mempunyai ipal.  Kolam penampungan air limbah ditebari ikan, kalau ikannya dapat hidup, berarti air limbah tersebut memenuhi syarat baku mutu air. Belum tentu!. Ikan mungkin bisa hidup karena o2 yang terlarut mencukupi. Namun logam berat akan secara graduil terakumulasi pada ikan dan berbahaya bagi yang mengkonsumsi.

Perkembangan hospes penyakit
     Perubahan dan kerusakan lingkungan ternyata juga berpengaruh pada perkembang biakan hospes, hewan yang menjadi perantara/sumber penularan penyakit. Nyamuk adalah hewan yang tidak tahan terhadap dingin. Makanya di daerah pegunungan tidak ada nyamuk. Namun perubahan lingkungan dan pemanasan global menyebabkan suhu dipegunungan naik, dan sekarang kita dapat menjumpai nyamuk dipegunungan. Jangan heran kalau sekarang di daerah pegunungan juga terjangkit malaria, DB< Chikungunnya dsb.
     Kerusakan lingkungan juga telah merubah peta penyakit. Daerah yang dulu aman, sekarang terkena banjir, rob, dsb. Maka disini berkembang penyakit leptospirosis, diare, dsb.
      Juga migrasi manusia dan kerusakan lingkungan, telah membawa penyakit migrasi anta benua. Ebola yang hanya ada di Afrika, kini bisa dijumpai di belahan dunia lainnya. 

Ancaman terhadap keaneka ragan hayati
     Masalah utama yang mengancam populasi dan keaneka ragaman hayati, adalah hilangnya habitat alami mereka. Penggundulan hutan, pencemaran air sungai baik yang berasal dari limbah rumah tangga dan limbah industri, lalu konversi lahan sawah menjadi kawasan industri dan pemukiman, menyebabkan habitat alami dari ikan, kodok, belut dan biota lainnya hilang.
      Sedangkan sawah dan lahan basah lainnya yang dimanfaatkan secara berlebihan melebihi daya dukungnya, atau penggunaan pestisida berlebihanpenangkapan ikan dengan racun,  atau penangkapan kodok, belut, ular dialam bebas secara berlebihan, semakin menjadi ancaman bagi keaneka ragaman hayati.
     Jika dulu kita dengan mudah menemukan kepik, capung dan kupu kupu beterbangan, lalu dimalan hari kita akan disuguhi kunang kunang yang tertbang dengan membawa obor hijau, maka suatau saat nanti itu hanya akan menjadi cerita bagi anak cucu.
     Anak cucu nanti jika ingin menlihat kunang kunang, ambil sebongkah batu, lalu dikeprukkan ke jidatnya, maka ia akan melihat ribuan kunang kunang menari diudara.
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengatasi kemacetan di Jakarta, Surat terbuka untuk pak Djokowi



Kemacetan di Jakarta sudah menjadi penyakit kronis yang tak kunjung rampung. Berbagai upaya telah dilakukan, sejak jaman gubernur yang lalu sampai gubernur sekarang, bapak Djoko Widodo. Mulai dari membangun jalan baru, jalan layang, menmbah armada angkutan umum, monorel dsb dsb...namun kemacetan tak kunjung rampung juga, kalau tidak dikatakan bertambah parah.
Kalau boleh aku usul nih..pak Djokowi, tapi mungkin usulanku ngoyoworo. Namun walau ngoyoworo, setidaknya bisa dijadikan bahan renungan untuk mengurai kemacetan di Jakarta khususnya, dan kota kota lain di Indonesia umumnya.
1.     Membatasi kepemilikan kendaraan bermotor
     Ini jelas melanggar hak warga!!. Semua warga berhak memiliki kendaraan bermotor, baik roda 2 maupun roda 4. Apapun tingkat sosialnya, berapapun penghasilannya. Jadi membatasi kepemilikan kendaraan bermotor akan dianggap melanggar hak warga.
     Namun pemerintah bisa menerapkan prasyarat bagi yang akan memiliki kendaraan bermotor. Prasyarat yang paling mudah dan rasanya juga diterapkan diluar negeri adalah : Mereka yang mempunyai kendaraan harus mempunyai garasi atau setidaknya halaman untuk memarkir kendaraannya. Prasyarat prasyarat lain silakahkan dicari, setidaknya dengan cara ini, warga tidak akan gampang memiliki kendraan bermotor
2.     Tidak boleh parkir di jalan raya, jalan kolektor dan jalan lingkungan
     Lanjutan dari ad.1 diatas, cobalah pak Djokowi sekali sekali blusukan dimalam hari, melihat jalan jalan lingkungan, jalan kolektor, perumahan dsb, disitu akan berderet deret mobil mobil diparkir, kepunyaan warga yang punya mobil tapi gak punya garasi. Akibatnya jalanan menjadi sempit dan susah dilalui.
     Ini harus juga diatasi!!. Warga yang memarkir mobil dijalan harus dikenai ongkos retribusi parkir yang tinggi, dan kedepannya dilarang sama sekali memarkir mobil dijalanan.
3.     Hapuskan aja kendaraan dinas/ kendaraan plat merah
     Nha...yang ini harus berlaku untuk seluruh negeri. Cobalah diadakan penelitian, kendaraan plat merah itu apa efektif to? Lha wong itu hanya fasilitas dari negara, namun banyak digunakan untuk kepentingan pribadi. Bahkan kalau didesa desa banyak yang digunakan untuk ngarit( Nyari rumput). Makanya lebih baik kendaraan plat merah itu dihapus saja.
     Tapi ya tentunya tidak digebyah uyah. Banyak pula kendaraan plat merah yang berguna. Banyak pula instansi yang membutuhkan kendaraan dinas. Cobalah diseleksi, mana yang perlu kendraan dinas, mana yang sebaiknya dihapus saja.
4.     Dilarang kekantor menggunakan kendaraan pribadi
     Ke kantor menggunakan kendaraan pribadi itu yang bikin macet! Satu orang satu kendaraan...wadouuw, ampun macetnya! Sampai dikantor, semua halaman penuh untuk parkir kendaraan staf/karyawan, bahkan tamu dinaspun susah untuk mendapat tempat parkir.
     Makanya, kedepan harus dibuat peraturan bahwa karyawan dilarang kekantor menggunakan kendaraan. Kalau boss masih boleh hehehe.....
5.     Perbanyak angkutan masal baik kwalitas maupun kwantitas
    Lha kalau dilarang menggunakan kendaraan pribadi, lantas pakai apa?. Kalau pakai kendraan umum, panas, lama, suka ngetem, suka ngebut, banyak copet, banyak pengamen..walah walah....pokoknya gak enak babarblas naik kendaraan umum itu
     Makanya angkutan umum harus dibernahi agar nyaman dan karyawan tertarik untuk kekantor/ke tempat kerja naik kendaraan umum. Bus kota, bus transjakarta, monorel, subway...atau setidaknya bus kota yang udah tua tua itu diremajakan
    Sokur bage instansi, perusahaan, pa brik dsb menyediakan bus karyawan dengan rute tertentu. Ini akan sangat membantu dan mengurai kemacetan.
     Salut pula bahwa pengembangan angkutan masal telah dimulai. Ka;lau gak dimulai ya kapan akan mulai. Hanya satu kata : T e r u s k a n.......
6.     Rumah dinas/ rumah karyawan didekat kantor atau pabrik
     Gimana gak mecet, lha wong kantornya di Jakarta kota tapi rumahnya di Bogor, Bekasi, Depok dan perumahan perumahan pinggiran Jakarta!!
     Aku usul agar perusahaan itu punya dormitory, rumah singgah, ataupun bedeng buat karyawannya agar mereka gak perlu naik kendaraan umum, cukup jalan kaki aja kalau ketempat kerja
7.     Relokasi pabrik/ industri yang mempunyai karyawan seribu keatas, keluar kota
    Kalau semua industri di Jakarta, kantor di Jakarta, perusahaan di Jakarta, ya jangan disalahkan jakarta punya macet. Makanya perlu dipikirkan, perusahaan besar, industri besar yang mempunyai karyawan ratusan bahkan ribuan, lebih baik  direlokasi keluar Jakarta. Biar beban Jakarta gak terlalu berat.
     Pengecualian kalau perusahaan itu mampu menyediakan tempat/ perumahan/ dormitory/ bedeng atau apalah yang mampu menampung karyawannya.
Mohon maaf mas Djokowi, ini mungkin ngoyoworo, namun setidaknya sumbang saran dari seorang yang hormat pada anda. Kalau ada yang baik, silahkan diserap, kalau jelek dan gak mutu, masukkan aja ke tempat sampah.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS