Ngabuburit...kuliner universal / takjil seragam....

     Saya ingin bertanya kepada teman dari Sunda, ngabuburit itu kan bahasa sunda. Arti sebenarnya apa?. Nampaknya kini ngabuburit telah menjadi bahasa Indonesia yang dikenal luas dan menjadi istilah yang jamak digunakan menjelang berbuka puasa. Mungkin pada awalnya, ngabuburit itu digunakan sebagai istilah, nongkrong nongkrong menunggu waktu berbuka puasa, sambil menyiapkan takjil berbuka.
     Namun sekarang istilah ngabuburit ini telah dipakai luas tidak hanya ditanah pasundan saja, tetapi mungkin diseluruh Indonesia. Dan mungkin juga artinyapun telah bergeser. Pokoknya ngabuburit itu jualan takjilan disore hari menjelang buka puasa, sambil mejeng. Dimana mana banyak tempat ngabuburit. Hampir semua kota ada tempat ngabuburit. Dan isinya sama, yakni orang jualan makanan takjilan untuk berbuka puasa. Takjilan yang dijualpun umumnya sama, yakni kolak, es buah, jenang, cendhol dan aneka makanan ringan.
 Seragam
     takjil yang dijualpun umumnya sama. dari golongan minuman pembuka seperti es buah, kolak, aneka jus, semua sudah dikemas dalam bungkus plastik. kemudian makanan ringan seperti aneka kue basah, makanan tradisional. Cara menjajakanpun juga seragam. Diatas meja, diatas kap mobil, atau pakai tenda darurat, semua itu menambah semarak gegap gempita bulan romadhon dengan acara baru yang namanya Ngabuburit.
Daya tarik kota
Pemerintah, pedagang, mengambil kesempatan ini untuk menarik perhatian pengunjung. Disuatu kota , ditentukan tempat yang diperbolehkan untuk jualan makanan takjilan ini, tempat tempat untuk ngabuburit, sehingga bisa menjadi daya tairk suatu kota. Di Magelang mungkin seputar alun alun, sore hari banyak dikunjungi masyarakat yang akan membeli takjilan, menunggu waktu berbuka puasa sambil ngabuburit di alun alun, nanti kalau sudah waktunya berbuka puasa, bisa langsung menuju masjid untuk sholat Maghrib. Bahkan bagi yang berkantong cekakpun bisa langsung ke masjid, disana takjilan gratis. Di Jogja, Bulaksumur telah lebih dulu terkenal dengan cewek cewek mahasiswi yang jualan takjilan disepanjang jalan Kaliurang, digelar diatas kap mobil. Wah ini pedagang takjilan dadakan yang mungkin hanya sekedar pengisi waktu.
Sekali lagi, kalau pemerintah daerah pandai menangkap kesempatan, momen ngabuburit ini bisa ditata menjadi daya tarik suatu kota.   

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

jelang Ramadhan: 80% konsumen petasan adalah orang miskin!!..

     Bulan Sya'ban ini mestinya digunakan oleh umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut  bulan Ramadhan. Banyak tuntunan dari Rasulullah SAW bagaimana mengisi ibadah di bulan Sya'ban ini. Berpuasa pada awal dan pertengahannya, tadarus, bersedekah dan saling bermaaf maafan nanti menjelang masuk bulan Ramadhan, semua itu adalah amalan yang lebih baik dikerjakan daripada hal hal yang tidak berguna.
     Jika toh ada tradisi dan adat istiadat, terutama di jawa, itu semua sebenarnya hanyalah suatu perlambang yang ada artinya. Misalnya dibulan Sya'ban banyak dilaksanakan sadranan. Sadranan dari kata arab "sodrun", yang artinya membuka dada, yakn i membuka dada untuk bisa menerima kehadiran bulan Ramadhan nanti. Apem, dari kata "afuwwun" yang artinya ampunan/ maaf. Jadi dibulan ini mestinya kita banyak mohon ampun dan dan saling memaafkan, sehingga masuk bulan Romadhon setidaknya kita sudah bersih. Demikian juga tradisi padusan, maksudnya untuk membersihkan diri.
     Namun kenyataannya, bulan Sya'ban ini bvanyak digunakan untuk menyiapkan hal hal yang tidak ada kaitannya dengan ibadah, bahkan sesuatu yang mubadzir....yakni membuat dan menyulut petasan atau mercon. Aapakah bulan Ramadhan dan lebaran identik dengan membunyikan mercon? Ini merupakan tradisi yang patut dicari akarnya kenapa dulu itu terjadi. Kenyataannya tradisi ini tidak semakin hilang, namun tetap eksis bahkan semakin berkembang. Tidak hanya petasan buatan rumahan, namun petasan buatan pabrik, petasan impor, kembang api dan sejenisnya semakin banyak dijumpai. Mulai dari kaki lima ditrotoar, diwarung warung kecil sampai ada toko khusus menjual kembang api.
     Satu hal yang menjadi keprihatinan, ternyata suara dar der dor petasan ini kebanyakan justru berasal dari perkampungan kumuh, perkampungan padat yang nota bene banyak dihuni oleh kaum menengah kebawah. Mengapa mereka memilih membelanjakan uangnya untuk membeli petasan, bukan untuk pendidikan anaknya, kesehatan atau setidaknya untuk meningkatkan gizi keluarga. Uang yang mereka cari dengan susah payah, akhirnya hanya dibakar sesaat, untuk suatu kesenangan semu yang tiada gunanya. Boleh dikata bahwa 80% yang membunyikan petasan adalah kaum miskin kaum marjinal dipemukiman kumuh, pemukiman padat dan pemukiman pinggiran.
     Perkampungan kumuh jelang Ramadhan memang ramai sekali dengan suara petasan. anak anak kecil bergerombol sambil menenteng petasan, dengan gembira menyulutnya untuk suatu suara yang cuma sesaat. Saling bersaing besar dan banyaknya petasan yang dapat mereka sulut, yang tak jarang pada waktu menyulut membahayakan orang lain, setidaknya mengganggu.
     Anak anak ini kalau diperingatkan malah marah, mengejek dan tak jarang terjadi pertengkaran akibat diperingatkan. Pengumuman oleh pak RT, pak RW bahkan sampai tingkat Kelurahanpun tidak mempan.  
     Ini mestinya menjadi PR bagi kita semua, terutama orang tua. Jangan mengijinkan anak anak untuk membeli petasan (gimana mau melarang, lha wong orang tua sendiri sering ikutan main petasan). Mari kita beri pengertian anak anak kita bahwa menyulut petasan adalah sesuatu yang sia sia. Uang yang kita cari dengan susah payah, lebih baik kita gunakan untuk sesuatu yang lebih berguna. Untuk membeli alat sekolah, atau ditabung untuk masa depan.
     Lebih penting lagi, mari kita isi anak anak dengan kegiatan agama, menyhiapkan diri mereka untuk memasuki bulan romadhon dengan hati yang bersih dan amal ibadah yang lebih bermanfaat. Beri pengertian kepada anak anak bahwa sesuatu yang mubadzir itu sangat dibenci Allah. Lebih lebih kalau dalam menyulut petasan mencelakai orang lain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Naik bus umum/ bus bumel??.....melatih kesabaran!!

    Pemerintah dinilai gagal menyediakan angkutan umum/ angkutan masal yang nyaman bagi rakyatnya. Akibatnya rakyat, masyarakat akan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Akibat lebih lanjut terjadi kemacetan dijalanan karena panjang jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus meningkat. A kibat lebih lanjut juga, konsumsi BBM meningkat pesat sehingga pemerintahpun kelabakan untuk mengatasinya.
     Selain kegagalan Pemerintah dalam menyediakan dan mengatur angkutan umum, ini juga diperparah dengan tingkah laku pengelola kendaraan umum dan tingkah laku para awak kendaraan tersebut, yang memang membuat penumpang tidak nyaman. Banyak penumpang yang akhirnya kapok naik kendaraan umum. Kalau toh naik juga, itu karena terpaksa tidak ada pilihan lainnya.
      Saya adalah pengguna setia kendaraan umum. Bepergian kekota yang dekat seperti dari Magelang ke Jogja atau Semarang, saya lebih suka menggunakan kendaraan umum, yakni bus umum atau bus bumel. Jarang sekali menggunakan bus patas. Tapi, kita harus siap mental dan siap kesabaran penuh manakala kita menggunakan bus umum. Sebagai gambaran saja, suatu saat saya naik bis umum dari Semarang pulang ke Magelang. Dari terminal terboyo, bus berjalan pelan pelan sambil nyari penumpang. Begitu masuk tol, ngebutnya menakutkan. Lalu berhenti di kawasan Sukun. Disini ngetem cukup lama, bahkan lama sekali, menunggu penumpang dari arah kota. Setelah ada berita bus berikutnya sudah dekat, baru bus mulai berangkat. Total dari terminal Terboyo sampai berangkat dari Sukun, perlu waktu hampir empat puluh menit. Lalu bus berangkat dengan kecepatan sedang, sambil menaikkan penumpang disepanjang jalan. Berhenti lagi di terminal Bawen. Dari Sukun ke Bawen dibutuhkan waktu lima puluh menit. Lha, di Bawen ini bus ngetem lama sekali, hampir tiga puluh menit. Kemudian baru berangkat lagi menuju Magelang yang memakan waktu satu jam. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk jarak Semarang - Magelang yang hanya 76 km, lebih dari tiga jam. Dan Semarang - Jogja memerlukan waktu empat setengah jam. Termasuk ngetem, masuk terminal dsb.
     Ini juga diperparah dengan hadirnya pengamen yang setiap saat bisa masuk bus, baik dari terminal, halte, lampu merah dan tempat naik turun penjumpang lainnya. Jarak Semarang - Magelang, bisa jadi ada sepuluh pengamen yang naik turun. Demikian juga pedagang asongan yang jumlahnya sangat banyak yang bisa naik turun setiap saat. Semua ini jelas membuat perjalanan menjadi sangat tidak nyaman.
     Pengelola bus juga tidak bisa merawat  busnya. Mulai dari kebersihan, tempat duduk yang sudah rusak, bus yang tidak nyaman, bau tempat duduk dan ruangan dalam bus, maka lengkaplah ketidak nyamanan menggunakan angkutan umum. Kita menjadi rugi waktu, rugi kenyamanan, hati menjadi geram, badan cepat lelah dan seabreg keluhan lainnya bila mengggunakan angkutan umum.
     Untuk itu saya menyarankan, bila anda akan naik angkutan umum, siap siaplah untuk rugi waktu, siapkan uang receh bagi para pengamen dan yang penting menata hati dan perasaan agar tidsak menjadi jengkel.
     Mestinya juga pemerintah perlu segera membuat aturan agar bus umum dan angkutan umum lainnya menjadi lebih nyaman dan menarik minat para penumpang. Orang bepergian akan lebih memilih menggunakan angkutan umum ketimbang angkutan pribadi. Jalanan akan sedikit dibebaskan dari kemacetan dan komsumsi BBM bisa ditekan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

burung dalam sangkar, jalan lurus menuju akhir hidupnya.....

     wahai kau burung dalam sangkar....dapatkah kau menahan siksa....dari kekejaman dunia...yang tak tahu menimbang rasa......../ biar sangkarku terbuat dari emas...lebih baik kuhidup di hutan luas....ini dua penggal lagu tempo dulu, yang satu dari D'lloyd dan penggal kedua dari Panbers, menggambarkan bagai mana kehidupan burung yang ada di dalam sangkar. Walaupun mungkin mendapat makan yang sangat enak, terjamin, walau mungkin sangakrnya terbuat dari emas, ukiran indah, namun bagaimanapun juga habitat burung adalah dialam bebas.
     Burung itu kalau sudah berada didalam sangkar buatan manusia, artinya burung itu sudah berada dijalan lurus menuju akhir hayatnya. Coba mari kita hitung, berapa lama burung itu dapat bertahan?. Sebulan,  dua bulan, setahun, dua tahun, atau berapa lama, pasti akan mati, tanpa meninggalkan keturunan atau anak, sebagai penerus spesiesnya. Lama lama spesies burung itu akan lenyap dimuka bumi.

Bagian dari ekosistem
     Di alam bebas, burung adalah bagian dari ekosistem. Tuhan telah menciptakan alam ini dengan berbagai isinya, masing masing mempunyai fungsi dan berjalan sangat seimbang. Burung, ada yang berfungsi sebagai penyerbuk bunga, yang akhirnya buahnyapun untuk kepentingan manusia. Ada yang berfungsi sebagai pemakan hama tanaman, atau pembersih alam dari bangkai hewan liar, dsb. Apabila keseimbangan itu terganggu, misalnya banyak burung dialam liar ditangkapi untuk kesenangan manusia, terganggu pula rantai kehidupan. Misalnya terjadi ledakan populasi hama karena tidak ada pemangsa alaminya. Atau produksi buah buahan menurun karena tidak ada penyerbukan. Masih banyak contoh bagaimana bila keseimbangan alam terganggu.
     Memang ada juga burung yang menjadi musuh manusia karena perannya sebagai hama. Misalnya burung pipit menjadi hama bagi tanaman padi. Burung bangau menjadi hama pagi petambak udang dan ikan. Namun semua itu sebenarnya bagian dari ekosistem yang akan saling terkait.
     Penangkapan burung liar, akan menyebabkan ekosistem terganggu. Salah satu rantai kehidupan terganggu, yang akibatnya bergeserlah keseimbangan alam. Lebih lebih penangkapan burung liar juga diikuti dengan penangkapan pakan alami burung tersebut. Sebut saja larva semut rang rang yang banyak diburu orang, karena larva semut rang rang ini adalah pakan alami dari beberapa jenis burung ocehan. Padahal semut rang rang adalah predator alami dari beberapa jenis hama perusak tanaman seperti wereng, walang sangit, dsb.

Solusi : Penangkaran
     Bagaimanapun juga, manusia sangat senang dengan suaran burung yang merdu  atau warna bulunya yang sangat indah. Pepatah Jawa mengatakan bahwa manusia itu sangan senang kepada Wanito, Turonggo dan Kukilo. Kukilo atau burung digemari karena suaranya, warnanya dan kalau mempunyai burung yang bagus dapat meningkatkan status sosial. Tapi kalau burung burung dialam ditangkapi, lama lama populasi burung tersebut akan menurun dan lama lama punah.
     Perlu diingat sekali lagi, bahwa jika burung liar itu sudah berada di dalam sangkar, artinya, burung tersebut sudah punah, karena tinggal menunggu kematian tanpa bisa melanjutkan garis keturunannya. Tanpa bisa melestarikan spesiesnya.
     Itulah maka penangkaran menjadi solusi mendesak untuk memenuhi hasrat manusia yang suka mendengarkan ocehan burung, memeliharan burung sehingga tidak hanya menangkap burung dari alam liar yang berakibat terganggunya keseimbangan alam.
     Dewasa ini sudah banyak usaha penangkaran yang  berhasil menangkarkan burung burung liar. Mulai dari jalak Bali, jalak penyu, cucak rowo,kenari, love bird dsb. Hasil dari penangkaran tersebut untuk dipasarkan memenuhi permintaan para penggemar burung,  dan bila yang menangkarkan lembaga tertentu, sebagian dilepas kealam liar untuk meningkatkan populasi dialam.
     Pendek kata, kita harus pastikan bahwa burung yang kita pelihara adalah burung hasil penangkaran, bukan hasil penangkapan dari alam liar. Dan kita biarkan burung burung liar terbang bebas dialam, menjaga keseimbangan alam demi kenyamanan kehidupan.

Alam sebagai sangkar raksasa
      Bagaimana bila alam ini diisi oleh burung burung yang terbang bebas, hinggap di pepohonan disekitar kita, berkicau dengan merdu, mencari makan dari apa yang sudah tersedia di alam?. Pagi hari bila kita membuka jendela, kita akan bisa melihat warna warni burung yang elok rupanya, kita bisa mendengar kicauannya yang merdu. Tanpa kita mempunyai keinginan untuk memiliki, tanpa kita mempunyai keinginan untuk menangkap untuk kita nikmati sendiri keindahannya, merdunya?.
     Mari kita jadikan alam sekitar kita sebagai sangkar burung raksasa, yang akan dapat menampung segala jenis burung, dengan beraneka warna keindahannya, aneka corak suaranya, dan sumber pakan alami yang tersedia sepanjang waktu tanpa diganggu.
     Mungkin kita tidak perlu repot repot tiap pagi harus memberi pakan  burung dan tidak perlu repot tiap hari harus membersihkan kotorannya. Suara burung burung yang merdu telah tersedia sepanjang waktu dialam sekitar kita.

Solusi lain: entaskan kemiskinan
     Bagaimanapun perlu diakui, bahwa para pemburu burung, para pencari kroto/larva semut rang rang itu adalah kaum miskin. Mereka tidak punya pekerjaan. Mereka menangkap burung, mencari larva, hanya untuk sekedar mendapatkan rupiah guna menyambung hidupnya. Mereka tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa pekerjaannya itu berakibat terganggunya ekosistem. Kalau sudah urusan perut, semua pertimbangan akan dilanggar juga.
     Maka mestinya dicarikan solusi untuk membuka lapangan kerja bagi mereka, agar mereka mau meninggalkan pekerjaannya yang bersifat merusak alam itu, pindah ke pekerjaan yang lebih membangun. Antara lain ya itu tadi, menjadi penangkar burung.

Pesan moral
     Ada hadist Rasulullah yang menyebutkan, bahwa seorang wanita ahli ibadahpun diancam masuk neraka bila menelantarkan binatang piaraannya. Diceritakan, seorang wanita yang asyik masyuk beribadah, berdoa, berdzikir sampai sampai melupakan kucing peliharaannya. Lalu saking laparnya, si kucing tersebut terpaksa makan remah remah di tanah. Terhadap perilaku wanita ahli ibadah tersebut, Allah mengancam akan memasukkan kedalam neraka. Bila kita qiyaskan, seorang yang memelihara burung dalam sangkar, lalu ditelantarkan, tidak diberi makan dan minum yang cukup, bisa bisa orang terserbut akan masuk neraka.
     Hadist lain menyebutkan, bahwa seseoranmg yang menanam buah buahan, lalu buahnya itu dimakan burung liar, dan ia mengikhlaskannya, maka tidak lain baginya pahala bagai orang bersedekah. Jadi buah buahan yang kita tanam dikebun, lalu dimakan burung dan kita mengikhlaskannya, adalah pahala sedekah bagi kita 
    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kuliner Magelang : Sego godhog & Mie Magelangan....

     Dimana mana, yang namanya warung bakmi itu rasanya sama. Baik warung yang ada diemperan toko, kaki lima trotoar diwaktu malam sampai yang berupa rumah makan, yang namanya bak mi ya kayak gitu rasanya. Namun seiring berjalannya sang waktu, sering dengan pengembaraan lidah keberbagai wisata kuliner, akhirnya kita akan tahu kekhasan masakan suatu daerah. Sama sama berlabel bakmi jowo, namun yang di Jogja lain rasanya dengan yang di Solo, lain lagi yang di Magelang.
     Di malam hari, sesudah toko toko pada tutup, banyak trotoar yang beralih fungsi sebagai tempat wisata kuliner. Dengan penataan yang apik, maka pusat jajanan itu akan menarik para pemburu kuliner. Salah satu masakan yang selalu hadir diberbagai tempat wisata kuliner adalah bakmi. Bakmi yang berbahan baku terigu, telah menjadi makanan pokok kedua sesudah nasi. Apalagi penjual bakmi mesti melengkapinya dengan nasi. Jadi banyak pilihan, ada bakmi godhog, bakmi goreng, nasi goreng dan nasi godhog.
     Masakan bakmi selera jawa, entah apapun namanya, berbeda dengan bakmi rasa oriental/ masakan cina. Bakmi jawa, biasanya berbahan pokok bakmi, mihun dan nasi. Kemudian kuahnya dari rebusan ayam kampung, yang biasanya dipilih ayam tua, jago atau babon. Direbus agak lama, biar empuk dan kuahnya mengeluarkan aroma khas. Daging ayam kampung ini nanti juga sebagai bahan baku membuat masakan bakmi godhog, goreng, nasi godhog dan nasi goreng. Sayur sebagai pelengkap terdiri dari daun bawang, sledri, kobis dan caisim. Bumbu utama adalah merica, bawang putih, penambah rasa berupa ebi(udang kering) dan miri. Bumbu digongso, setelah tercium aroma sedap, baru sayur dimasukkan, lalu daging ayam dan bahan utama, bakmi, mihun atau nasi. Tentu saja penguat rasa monosodium glutamat tidak ketinggalan. Kombinasi, cara meramu, banyak sedikitnya bahan, itu yang akan menentukan kekhasan rasa dan merupakan trade mark warung bakmi masing masing.

Sego godhog
     Ini saya temui pertama kali di Magelang. Sekarang mungkin sudah meluas ke berbagai tempat dengan cara penyajian dan kekhasan masing masing daerah. Mungkin logikanya, ada bakmi godhog, ada bakmi goreng. Ada nasi goreng, mestinya juga ada nasi godhog.
     Cara memasak sego godhog ini persis sama dengan memasak bakmi godhog, hanya bakminya diganti dengan nasi. Panas, pedas, berkuah, lengkap dengan sayuran, ayam kampung dan bisa ditambah telur. Ini mungkin untuk melayani pelanggan yang nasi minded. Belum rasa makan kalau belum makan nasi. Jadi makan nasi godhog itu seperti nakan nasi sop, hanya sayur, isi lainnya dan nasi dimasak bersama sama.

Bakmi Magelangan
      Istilah bakmi Magelangan ini justru tidak dikenal di kota Magelang. Baru kalau kita masuk ke warung bakmi di Jogja dan sekitarnya, kita bisa memilih menu bakmi magelangan. Jadi pada daftar menu akan tertulis bakmi goreng, bakmi godhog, nasi goreng, nasi godhog dan bakmi magelangan. Lho, kayak apa sih bakmi magelangan?. Orang Magelang yang baru pertama kali melihat daftar menu inipun pasti penasaran ingin mencoba.
      Bakmi Magelangan ini sama dengan bakmi godhog biasa, hanya bakminya terdiri dari bakmi kuning dan mihun. Bumbu, sayur, daging ayam, semua sama. Yang paling membedakan ialah kuah yang sangat sedikit, atau kalau orang jawa menyebutnya nyemek nyemek. Jadi mungkin tengah tengah antara bakmi goreng dan bakmi godhog.
     Jadi bakmi magelangan itu hanya ada di Jogja dan sekitarnya serta daerah lain. di Magelang sendiri tidak ada. Lha kalau sedang berada di Magelang, ingin makan bakmi magelangan gimana caranya?. Pesan aja bakmi "nyemek nyemek", nanti akan dilayani hidangan kayak bakmi magelangan

So what?....Mari mencicipi sego godhog atau bakmi magelangan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS